Mati rasa...
Matahari telah bangun dari tidurnya, dan aku yang sudah selesai
mandi dan siap-siap, berjalan melakukan rutinitasku ke sekolah, sesampainya di
sekolah, aku pergi ke kantin, dan aku melihat seorang gadis cantik, bernama
Nona, ya Nona adalah wanita yang pendiam, jujur aku suka padanya, karena ia
kalem lalu aku mulai mendekatinya.
“Hi non?”
“Hi Lucky.”
“Non, lo sendirian aja di kantin.”
“Iya nih, lagi nungguin temen nih.”
“Ohh gitu, gue boleh duduk di sini?”
“Ya bolehlah, duduk aja kali.” sambil memegang tangan Lucky, lalu menariknya.
“Hi Lucky.”
“Non, lo sendirian aja di kantin.”
“Iya nih, lagi nungguin temen nih.”
“Ohh gitu, gue boleh duduk di sini?”
“Ya bolehlah, duduk aja kali.” sambil memegang tangan Lucky, lalu menariknya.
Aku pun duduk di samping Nona, saat aku duduk di sampingnya hati
ini serasa bergetar, berdetak lebih kencang, tidak seperti biasanya, dan jiwa
ini serasa melayang di udara saat Nona memegang tanganku, sungguh rasanya takut
tapi bahagia.
Tett! Tett!. Bel sekolah pun berbunyi.
“Non, udah bel tuh, gue masuk
duluan ya.”
“Oke deh Lucky, thanks ya udah nemenin gue.”
“Ya sama-sama.”
“Oke deh Lucky, thanks ya udah nemenin gue.”
“Ya sama-sama.”
Lucky pun menuju kelasnya, Lucky adalah anak SMK jurusan AK, ia
kelas 1, sedangkan Nona kelas 3. Lucky bertemu dengan teman-temanya, Deki,
Ridho dan Julio, mereka pun belajar bersama saat pelajaran dimulai, tanpa
disangka mereka sudah belajar 3 jam, bel istirahat pun sudah berbunyi.
“Dek, do, jul turun gak?”
“Tar aja deh Lucky, gue masih mau main game dulu.” jawab Deki.
“Iya Lucky, lagi seru nih, ntar aja kita nyusul.” sahut Ridho.
“Iya luc, nanti kita nyusul kok.” balas Julio.
“Oh, ya udah deh, gue turun duluan ya.”
“Iya.” jawab Deki, yang lain pun menganggukkan kepalanya.
“Tar aja deh Lucky, gue masih mau main game dulu.” jawab Deki.
“Iya Lucky, lagi seru nih, ntar aja kita nyusul.” sahut Ridho.
“Iya luc, nanti kita nyusul kok.” balas Julio.
“Oh, ya udah deh, gue turun duluan ya.”
“Iya.” jawab Deki, yang lain pun menganggukkan kepalanya.
Aku pun turun, untuk ke kantin, dan aku melewati kelas 3 SMK, saat
aku lewat, langkah kakiku terhenti, karena Nona memanggilku.
“Kenapa non?”
“Ah gak apa-apa kok, cuma mau bareng aja ke kantinnya.”
“Oh, gitu, ya udah ayo turun.”
“Ah gak apa-apa kok, cuma mau bareng aja ke kantinnya.”
“Oh, gitu, ya udah ayo turun.”
Aku dan Nona pun turun menuju ke kantin, kami berbincang-bincang
dengan puas, dan tanpa sadar aku pun bertanya pada Nona.
“Non lo udah punya cowok?”
“Hmm gak tuh gue masih single, emangnya kenapa? Lo mau jadi pacar gue?” Balas Nona sambil meledek. Aku pun terdiam, dan tidak tahu harus jawab apa, sampai-sampai wajahku penuh dengan keringat.
“Eh. Enggak cuma nanya aja kali.” balasku setelah lama berpikir.
“Hahahaha, dianggap serius banget, cuma bercanda kali, sampe keringetan gitu.”
“Hmm gak tuh gue masih single, emangnya kenapa? Lo mau jadi pacar gue?” Balas Nona sambil meledek. Aku pun terdiam, dan tidak tahu harus jawab apa, sampai-sampai wajahku penuh dengan keringat.
“Eh. Enggak cuma nanya aja kali.” balasku setelah lama berpikir.
“Hahahaha, dianggap serius banget, cuma bercanda kali, sampe keringetan gitu.”
Tanpa disangka Nona mengambil sapu tangan, dan mengelap
keringatku, aku sungguh gemetar, tapi juga senang. Detik berganti, menit, menit
pun berganti jam, tanpa disangka sudah saatnya pulang sekolah.
Hari demi hari, aku dan Nona pun semakin dekat, kami selalu
bercanda-canda, dan curhat, tapi aku tak bisa menahan rasa ini lagi, lalu aku
pun menyatakan perasaanku pada Nona lewat sms, tapi Nona minta aku menyatakan
perasaan itu langsung di depannya.
Keesokan harinya saat bertemu di sekolah, aku sedikit takut dan
ragu, tapi aku benar-benar menyatakan perasaanku langsung di depan Nona dan
teman-temanya, dan hanya tinggal menunggu hasilnya saja, tadinya aku memang
sangatlah khawatir, jika ditolak sungguh aku akan menanggung malu, tapi
ternyata pikiranku salah, Nona menerimaku menjadi pendamping hidupnya pada
tanggal 05-12-2013.
Hubungan kami berjalan dengan lancar, tapi Nona sama sekali tidak
punya waktu untuk jalan saat malam minggu, atau hari lain-lainya, karena memang
Nona dikekang oleh keluarga Omnya, yang membuat aku sedih adalah, karena Nona
dibuat bagaikan pembantu. Padahal Nona itu adalah keponakannya, sungguh ku
sangat ingin membantu Nona, hatiku rasanya sedih mendengar Nona menangis di
dalam telepon, aku pun selalu menyemangati dia, agar dia tidak salah tindakan,
segala semua perhatianku pun kuberikan pada Nona, agar dia tidak merasa dunia
ini tidak adil.
Waktu kami bertemu hanyalah saat minggu malam, itulah saat kami
beribadah gereja bersama di GKI Cipinang indah, hanya di saat itu dan di
sekolah saja aku bisa bertemu dengan Nona, aku bisa bersabar dan bisa setia
dengan hubungan ini, walau Nona selalu tidak ada waktu untukku, aku sangat
percaya, bahwa di balik ini semua pasti Tuhan punya rencana indah. Sampai pada
suatu saat, Nona minta untuk menyudahi hubunganku denganya, karena ia merasa
bahwa ia tidak pantas untukku.
“Lucky, maaf aku mau kita putus
ya.” dengan kaget aku segera membalas smsnya dengan cepat.
“loh, kenapa non? kita juga baru beberapa minggu, aku gak mau kalau kita putus gini Nona, emangnya kamu udah gak sayang sama aku?”
“bukanya gak sayang, aku sayang sama kamu, tapi aku gak mau aja gara-gara aku kamu jadi ikut-ikutan susah dan sedih.”
Aku pun membalas smsnya. “sayang, kita ini udah pacaran, jadi susah maupun senang, dan gembira maupun sedih harus dijalankan bersama, aku gak pernah mengeluh kok, aku gak pernah nyalahin kamu kalau aku susah ataupun sedih, karena aku sayang dan cinta sama kamu itu tulus apa adanya.”
“loh, kenapa non? kita juga baru beberapa minggu, aku gak mau kalau kita putus gini Nona, emangnya kamu udah gak sayang sama aku?”
“bukanya gak sayang, aku sayang sama kamu, tapi aku gak mau aja gara-gara aku kamu jadi ikut-ikutan susah dan sedih.”
Aku pun membalas smsnya. “sayang, kita ini udah pacaran, jadi susah maupun senang, dan gembira maupun sedih harus dijalankan bersama, aku gak pernah mengeluh kok, aku gak pernah nyalahin kamu kalau aku susah ataupun sedih, karena aku sayang dan cinta sama kamu itu tulus apa adanya.”
Tak mau lama menunggu balasan sms Nona, aku pun telepon Nona dan
telepon itu langsung diangkat sama Nona. “hallo, sayang? kamu baik-baik aja
kan?”
Nona tidak menjawab, tapi aku
mendengar suara orang menangis, dan ternyata yang menangis itu Nona.
“sayang, kamu kenapa nangis?”
“gak apa-apa kok, aku cuma terharu aja, baru kali ini aku diperhatiin dengan tulus, dan baru kali ini aku punya pacar yang bisa menerima aku apa adanya dengan tulus.”
“ya ampun sayang, aku itu memang tulus mencintai kamu apa adanya, jadi kamu gak usah sedih ya, apapun yang terjadi aku pasti bakalan tetep ada buat kamu sayang, dan kalau kamu punya masalah cerita sama aku, biar kita bisa menyelesaikan masalah ini bersama.”
“iya, makasih banyak ya sayang.”
“iya sama-sama, ya udah hari sudah malam, kamu tidur gih, kan besok sekolah.”
“iya-iya, ya udah aku tidur dulu ya sayang, Guten Aben sayang.”
“iya Guten Aben.”
“sayang, kamu kenapa nangis?”
“gak apa-apa kok, aku cuma terharu aja, baru kali ini aku diperhatiin dengan tulus, dan baru kali ini aku punya pacar yang bisa menerima aku apa adanya dengan tulus.”
“ya ampun sayang, aku itu memang tulus mencintai kamu apa adanya, jadi kamu gak usah sedih ya, apapun yang terjadi aku pasti bakalan tetep ada buat kamu sayang, dan kalau kamu punya masalah cerita sama aku, biar kita bisa menyelesaikan masalah ini bersama.”
“iya, makasih banyak ya sayang.”
“iya sama-sama, ya udah hari sudah malam, kamu tidur gih, kan besok sekolah.”
“iya-iya, ya udah aku tidur dulu ya sayang, Guten Aben sayang.”
“iya Guten Aben.”
Matahari telah bangun dari tidurnya, dan aku pun sudah siap untuk
bergegas ke sekolah, untuk mengikuti pelajaran dan bertemu dengan orang yang
spesial di dalam hatiku, sesampainya di sekolah, aku selalu menunggu Nona di
depan sekolah, sampai pada akhirnya dia datang.
“good morning sayang.”
“good morning juga.”
“kamu udah makan sayang?” tanyaku pada Nona.
“belum sayang, tadi gak sempet makan.”
“ya udah, kita makan dulu yuk!”
“iya.”
“good morning juga.”
“kamu udah makan sayang?” tanyaku pada Nona.
“belum sayang, tadi gak sempet makan.”
“ya udah, kita makan dulu yuk!”
“iya.”
Kami pun pergi ke kantin dan memesan makanan.
“sayang sebentar lagi kita
bakalan bagi rapot, dan libur panjang pasti kita bakalan susah ketemu.” kata
Nona padaku.
“ya gak apa-apa kok sayang, yang penting kan kita masih bisa ketemu pas minggu malam.” balasku pada Nona.
“makasih ya sayang, kamu mau setia dan pengertian sama aku.”
“iya, sayang.”
“ya gak apa-apa kok sayang, yang penting kan kita masih bisa ketemu pas minggu malam.” balasku pada Nona.
“makasih ya sayang, kamu mau setia dan pengertian sama aku.”
“iya, sayang.”
Sudah 4 hari kami class meeting, dan sekarang tiba waktunya kami
bagi rapot, aku sungguh puas dengan hasil nilaiku yang bagus, dan meraih
rengking 4, tapi ada satu hal yang buat aku sedih dan tidak puas, di saat akan
libur panjang, aku tidak bisa bertemu dengan Nona, dan liburnya pun terlalu
lama. Tapi untungnya kami masih bisa berkomunikasi, walau hanya lewat sms dan
telepon saja, detik berganti menit dan menit berganti jam, jam pun berganti
hari.
Sekarang adalah tanggal 24-12-2013, aku dan Nona pun berencana
untuk beribadah malam natal bersama, di sebuah gereja batak di pondok bambu,
malam natal itu adalah malam natal yang indah, sepanjang jalan kami selalu
bergandengan tangan, dan aku pun dikenalkan oleh Nona pada Kakak-Kakaknya, dan
Kakak-Kakaknya Nona pun menerima aku dengan suka cita.
Selesai beribadah, aku pun ingin mengantarkan Nona sampai
rumahnya, tapi dilarang oleh Kakaknya, yang bernama Rina, Kak Rina melarang
karena ini sudah malam, ia takut kalau aku tidak akan dapat angkot 31, akhirnya
aku pun pulang, dengan kenangan yang indah pada saat malam natal tadi.
Sepanjang hari aku selalu memberikan perhatianku hanya pada Nona,
karena sungguh aku sangat mencintainya. Empat hari pun berlalu dan sekarang
adalah tanggal 29-12-2013, dan aku pun ingin pergi beribadah minggu bersama
Nona di GKI cipinang indah, malam itu Nona agak berbeda, tapi aku tidak
menangapinya dengan serius. Selesai gereja, aku pun mengantarkan Nona sampai di
dekat rumahnya, dengan motor, di situ aku pun berpisah dengan Nona. Sampainya di
rumah, aku segera mandi, dan sms Nona, kami pun saling berbalasan sms.
Keesokanya Nona semakin aneh, aku sms dia tapi sama sekali tidak
ada balasan, di saat itu aku masih berpikir, “ahh mungkin pulsanya habis.” dan
aku tunggu sampai siang tapi tidak juga dibalas, oleh karena itu, aku mencoba
untuk telepon Nona.
Tuuttt! Tuuttt! Tuuttt! Tuuttt!.
Tapi ada hal aneh, telepon itu tidak diangkat, biasanya langsung
diangkat, dan aku coba untuk berpikiran positif, dan sampai malam pun tidak ada
kabar sama sekali dari Nona. Keesokan harinya juga sama saja, Nona tidak ada
kabar, hatiku sungguh sangat sedih dan hancur, bahkan sampai-sampai aku memukul
tembok hingga hancur, aku selalu melampiaskan sakit hati ini pada tembok, ya
walau akhirnya tanganku jadi bonyok.
Sampai pada malam tahun baru, Nona juga tidak ada kabar sama
sekali, sungguh ku tidak bisa menahan rasa sakit, dan rasa rindu ini. Malam
tahun baru saat ini ialah malam tahun baru yang paling buruk, dan tidak
istimewa sama sekali, bagiku malam tahun baru ini, sama seperti malam-malam
biasanya sebelum aku mengenal Nona. Sampai tahun berganti pun, Nona sama sekali
tidak ada kabar, sungguh ku sangat khawatir dengan keadaannya, aku tidak sabar
ingin cepat masuk ke sekolah, karena hanya saat masuk sekolah sajalah aku bisa
bertemu dengan Nona.
Tak disangka pun libur hanya tinggal 1 hari, aku sangatlah tidak
sabar untuk bertemu Nona, dan menanyakan maksudnya ini semua agar tidak terasa
lama menunggu libur usai, aku pun tidur. Dan mengisi hari terakhir ini dengan
segala kegiatan.
Hari ini pada tanggal 07-01-2014, libur telah usai, dan aku pun
segera buru-buru bergegas masuk ke sekolah untuk bertemu dengan Nona. Sampainya
di sekolah memang aku melihat Nona, tapi Nona langsung masuk ke kelas saat ia
melihatku, tanyaku dalam hati, “kenapa sih? emang aku buat salah apa sama kamu
non, sampai-sampai kamu buang muka gitu, padahal kita masih ada status hubungan
sampai saat ini, aku juga udah memberikan semua perhatianku hanya untuk kamu
seorang, aku udah setia sama kamu, tapi kenapa? kenapa kamu jadi kayak gini
sih? kamu itu gak tahu kan perasaan aku saat ini? Sakit non, Sakit.”
Aku pun segera masuk kelas dengan
wajah sedih, dan Ridho pun bertanya. “lo kenapa lagi Lucky?”
“eggak do, gak apa-apa kok.” balasku dengan nada pelan.
“gak mungkin, udah deh gak usah bohong sama gue, jujur aja lo kenapa luc.”
“saat ini gue masih belum bisa cerita sama lo do, mungkin nanti tunggu waktu yang tepat.”
“ya udah, lo gak usah sedih lagi ya.”
“iya, thanks ya do.”
“iya.”
“eggak do, gak apa-apa kok.” balasku dengan nada pelan.
“gak mungkin, udah deh gak usah bohong sama gue, jujur aja lo kenapa luc.”
“saat ini gue masih belum bisa cerita sama lo do, mungkin nanti tunggu waktu yang tepat.”
“ya udah, lo gak usah sedih lagi ya.”
“iya, thanks ya do.”
“iya.”
Pelajaran pun dimulai, dan dalam
pelajaran itu pun aku melamun, memikirkan Nona, dan membuatku tidak paham
dengan penjelasan guru, lalu tanpa sadar guru itu memanggil namaku.
“Lucky, coba ulang apa yang barusan ibu bilang.”
“Lucky, coba ulang apa yang barusan ibu bilang.”
Namun ku tetap terdiam dan melamun, sampai akhirnya ada yang
menepuk pundakku, dan membuatku sadar bahwa guru memanggilku.
“ap-apa bu?”
“coba ulangi yang ibu jelaskan barusan!”
“maaf bu, saya tidak paham.”
“makanya jangan melamun terus, ya udah sekarang kamu ke kamar mandi, cuci muka sana.”
“baa-baik bu.”
“coba ulangi yang ibu jelaskan barusan!”
“maaf bu, saya tidak paham.”
“makanya jangan melamun terus, ya udah sekarang kamu ke kamar mandi, cuci muka sana.”
“baa-baik bu.”
Aku pun menuju ke kamar mandi, dan membasahi mukaku, dan aku pun
menangis, karena perasaanku saat ini benar-benar hancur, aku selalu bertanya
pada tuhan, “ya Tuhan kenapa ini semua harus terjadi padaku, padahal aku
benar-benar mencintainya.”
Tak mau kena marah lagi, aku pun menghapuskan air mataku dan
kembali ke kelas. Dua jam berlalu dan bel istirahat pun sudah berbunyi. Saat
aku ingin turun, aku melihat Nona, tapi ia tampak cuek dengan kehadiranku,
bahkan ia melewati aku seperti orang yang tidak kenal, hatiku semakin hancur,
dan aku masih mecari-cari jawaban dari semua ini.
Beberapa menit kemudian, barulah bel berbunyi, pertanda bahwa
pelajaran akan dimulai kembali. Sama seperti pertama, aku mengikuti pelajaran
tanpa semangat, dan lebih banyak melamun, memikirkan Nona. Sampai pada akhirnya
bel pulang pun berbunyi. Aku segera membereskan buku-bukuku, dan turun ke
bawah, saat ku turun ada temannya Nona menghampiriku.
“eh Lucky, lo ditungguin Nona
tuh, di deket perpus.”
“oh iyaa, thanks ya.”
“oh iyaa, thanks ya.”
Tanpa mau menunggu lama aku pun segera menuju ke perpus, dan
ternyata benar, Nona memang sudah menungguku. Aku sudah melihatnya dari jauh,
tapi perasaanku ada yang aneh, entah kenapa aku berpikir, pasti Nona minta
putus deh. Kata-kata itu selalu bermunculan dalam pikiranku saat ini. Aku sudah
sampai di depan Nona, dan Nona pun kelihatannya cuek sekali, dan saat itu aku
mulai mengeluarkan pertanyaan-pertanyaanku.
“non, kamu kemana aja sih? kenapa
gak ada kabar? aku khawatir tahu gak sih!”
Nona hanya terdiam, dan aku pun memberikannya pertanyaan lagi.
“terus tadi kenapa pas lewat di depan aku, kamu kayak orang gak kenal sama aku, padahal kita masih ada hubungan non, masih ada hubungan!”
Lalu Nona pun menjawab. “sorry ya Lucky, sebenarrnya selama ini gue terima lo, cuma buat waiting seseorang, dan gue gak pernah serius sama lo, walau lo begitu perhatiannya sama gue, tulus sama gue, tapi gue sama sekali gak punya rasa sama lo, dan sekarang gue mau kita putus.”
Nona hanya terdiam, dan aku pun memberikannya pertanyaan lagi.
“terus tadi kenapa pas lewat di depan aku, kamu kayak orang gak kenal sama aku, padahal kita masih ada hubungan non, masih ada hubungan!”
Lalu Nona pun menjawab. “sorry ya Lucky, sebenarrnya selama ini gue terima lo, cuma buat waiting seseorang, dan gue gak pernah serius sama lo, walau lo begitu perhatiannya sama gue, tulus sama gue, tapi gue sama sekali gak punya rasa sama lo, dan sekarang gue mau kita putus.”
Lalu Nona segera pergi meninggalkan aku sendiri di perpus, aku pun
terdiam dan aku tak tahan rasa sakit ini. Aku memukul-mukul tembok, hingga
tanganku memar-memar, dan sungguh sejak saat itu aku mati rasa, aku tidak bisa
mencintai siapapun lagi, sungguh pengalaman yang pahit, yang membuatku takut
untuk mencari penggantinya, dan membuat luka yang begitu dalam. Hingga bekasnya
pun tidak bisa hilang.
Sejak saat itu aku selalu hati-hati saat ada wanita yang baik dan
perhatian padaku, tapi tetap aku tidak marah pada Nona, aku tetap memaafkan
dia, karena aku sadar, kalau kita berani mencintai itu, berarti kita juga harus
berani sakit hati. Tapi ada satu kata-kata dari seorang sahabatku, yang
membuatku mampu menghadapi persoalan ini, kata-kata inilah yang membuat mati
rasaku hilang.
“Ketika kamu terluka, jangan biarkan dirimu menyerah. Tak perlu
takut akan sakit yang ada, karena itu bukan derita, itu cinta.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar