Sabtu, 12 Desember 2015

Mantan terindahku...
Semua mata mengarah padanya, pada seorang gadis yang berpenampilan sangat sederhana dan apa adanya, polesan make up yang tadi sempat digunakannya terlihat telah terhapus oleh keringat yang dari tadi terus disekanya dengan tissue. Dia tersenyum pada semua mata tersebut tapi mereka hanya membalas dengan senyuman tipis dari salah satu sudut bibir mereka, yang kadang lebih terlihat seperti cibiran bukan senyuman.
“Ajeng” Seorang wanita yang berpakaian sangat cantik dan elegan, menyapa wanita itu dengan namanya. Kontan hal tersebut membuat semua mata tak bergeming dari sosok wanita sederhana yang bernama Ajeng itu. Ajeng membalas sapaan itu dengan senyuman yang sangat manis, lalu langsung mengikuti wanita cantik tersebut.
“Harusnya kamu bilang kalau kamu jadi datang”
“Aku cuma takut jadi malu-maluin kamu saja La”
“Kita ini sahabat Jeng, aku bisa mempersiapkan yang lebih baik untukmu jika kamu bilang lebih dulu.”
“Maafkan aku ya La”
“Hemm.. harusnya aku tidak marah kan Jeng. Yang kamu hadapi jauh lebih berat” Wanita yang bernama Lala itu tersenyum. Lalu dibalas senyum juga oleh Ajeng.
Mereka berdua berjalan menuju lantai dua rumah besar yang sedang dipenuhi orang-orang itu. Lala membawa Ajeng menuju kamarnya yang besar dan sangat elegan. Ajeng dulu sering sekali kekamar itu, bertukar cerita dengan Lala, melewati waktu waktu dewasa mereka. Semua terasa begitu lama telah berlalu bagi Ajeng, padahal semuanya berakhir hanya beberapa bulan yang lalu. Hanya rentan waktu yang singkat tapi terasa begitu lama.
“Aku rasa ini cocok” Lala memecahkan lamunan Ajeng dengan menyodorkan sebuah gaun hijau muda yang sangat anggun. Ajeng menatap Lala tak mengerti.
“Aku ingin kamu cantik kali ini, please” Lala menjawab pertanyaan yang tak sempat ditanyakan Ajeng. Ajeng tersenyum ragu lalu mengambil gaun itu dan pergi kekamar mandi untuk mengepaskan gaun itu dibadannya. Ajeng mencuci mukanya dan keluar kamar mandi tersebut.
Lala tersenyum melihat gaun itu terlihat sangat pas dibadan Ajeng, Lala kemudian menarik tangan Ajeng untuk duduk dimeja riasnya. Ajeng hanya menurut saja seperti dulu saat mereka sering saling merias diri. Ini sama saja, hanya saja Ajeng sudah canggung melakukan kebiasaan itu “lagi”.
Lala tampak konsen dengan bedak dan aye shadow di tangannya. Ajeng hanya diam saja sambil memejamkan matanya, kembali ke waktu dua tahun lalu, saat Lala juga melakukan hal yang sama seperti sekarang, hanya saja dulu keadaannya jauh lebih baik, mereka menceritakan cita-cita, banyak tertawa, dan terasa “hidup”.
“Mungkin semua lebih baik jika aku tidak jatuh cinta kan La” Ajeng memecahkan konsentrasi Lala sambil menahan air mata nya yang dari tadi ingin tumpah. Lala tak memberikan jawaban, dia meletakkan semua yang ada ditangannya kemudian menarik Ajeng dalam pelukannya.
“Kamu harus kuat Jeng. Maafkan aku tak bisa melakukan apa-apa untuk kamu, sahabat terbaik yang ku punya.” Air mata Lala jatuh lebih dulu, terasa hangat mengalir dibahu Ajeng.
“Aku bisa sekuat sekarang justru karna kamu La. Thanks for everything La..” Ajeng menumpahkan semua air matanya. Sesaat kedua sahabat itu saling bertukar haru lalu tak lama keduanya tersenyum lagi, saling menguatkan dan menghapus air mata dipipi mereka. Selanjutnya mereka bertukar riasan dan kembali tertawa kecil seperti dulu.
“Perfect. Aku selalu suka riasan kamu Jeng” Lala memperhatikan hasil riasan mukanya dikaca.
“Aku juga” Ajeng hanya bicara sedikit, karena kata-katanya lebih banyak tersimpan dalam rasa kagumnya pada dirinya saat ini.
“Cantik! Kamu Cantik Jeng. Harusnya kamu harus bilang kalau kamu sangat puas dengan karyaku. Right?” Lala mewakili semua yang ingin diucapkan Ajeng. Sementara Ajeng hanya mengangguk tanpa melepaskan pandangannya dari depan kaca.
“Ayo.. Jangan cuma aku saja yang melihat kecantikan kamu ini Jeng. Biarkan yang lain juga melihatnya” Lala menarik tangan Ajeng keluar dari kamarnya menuju ruangan bawah yang tengah ramai dengan orang-orang. Ajeng berhenti ditangga, melihat kebawah dan tampak ragu dengan ide Lala barusan. “Aku takut La” Kata Ajeng berikutnya. Lala yang tampak sedikit bingung kemudian tersenyum menguatkan. “Aku ada dipihakmu kok Jeng, kamu bisa gunakan aku sebagai pisau jika ada seorang yang mengancammu” Lala menggoda Ajeng yang bimbang. Ajeng hanya tersenyum tipis lalu mencibir tipis kearah Lala yang mencoba berlagak seperti malaikat itu. Mereka kemudian melanjutkan langkah mereka, menuju ke aula besar dengan banyak orang itu.
Lala menggenggam tangan Ajeng, mengajak Ajeng berkeliling sambil sesekali mengenalkan Ajeng sebagai sahabatnya kepada tamu-tamunya. Sekali lagi orang-orang memandang Ajeng, tapi kali ini dengan pandangan kagum akan keanggunan dan kecantikannya yang terlihat sangat terang. Ajeng bisa mengendalikan perasaan malunya saat itu, sampai seorang lelaki memegang pundaknya dan
“Ajeng” Lelaki itu setengah terkejut, senang, takut, sedih dan semua ekspresi yang jelas tengah mencerminkan hatinya saat ini.
“Mas Aldo” Ajeng terkejut tapi segera dapat menguasai dirinya, dia kemudian tersenyum setelah melihat wanita cantik yang sedikit kebingungan disebelah lelaki yang bernama Aldo itu.
“Selamat ya..” Ajeng menjulurkan tangannya kepada Aldo. Aldo yang belum dapat menguasai dirinya tergagap dan menjabat tangan Ajeng.
“Kamu harus berterima kasih pada Tuhan punya sahabat sebaik aku” Lala berbisik ditelinga Ajeng, lalu memegang tangan wanita cantik disamping Aldo itu dengan kedua tangannya. “Mbak Nia, ini temen aku Ajeng mbak. Ajeng, ini mbak Nia. Mbak bisa ikut Lala sebentar? Lala mau kenalin mbak sama temen-temen Lala yang lainnya. Gak keberatan kan mas Aldo?” Lala mangedipkan sebelah matanya kepada Aldo dan Aldo terlihat sangat mengerti dan segera mengangguk. “Pinjam aja dek” ‘yang lama ya’ lanjut Aldo dalam hati.
Ajeng memperhatikan Lala dan Nia yang kemudian hilang diantara kerumunan. Ajeng menyadari jika hatinya yang saat ini sedang berdegub lebih kencang daripada biasanya, tapi dia lebih senang menyanggahnya jika itu semua karna Aldo yang sekarang berdiri disampingnya.
“Jadi, dia Nia? Dia sangat cantik Mas. Kamu beruntung sekali bertemu dengan wanita secantik itu” Ajeng membuka percakapan tanpa menatap Aldo yang disadarinya dari tadi memperhatikan dan melihatnya.
“Ya, aku beruntung. Setidaknya dia mau melihatku saat sedang bicara denganku”.
Ajeng menunduk, menghela nafas panjang mendengar jawaban Aldo. Ajeng menggerakkan kepalanya, memberanikan diri menatap Aldo yang selalu dia rindukan.
“Aku tahu tempat yang baik untuk bicara berdua. Aku mau menunjukkannya padamu. Kamu mau?”
Ajeng hanya diam “Aku anggap itu iya” Aldo memastikan sendiri jawaban Ajeng yang terlihat ragu olehnya. Aldo berjalan didepan dan Ajeng mengikutinya dari belakang. Ajeng berharap saat ini Aldo menarik tangannya dari tempat ini tetapi dia sangat faham mengapa itu menjadi sangat tidak mungkin saat ini, ditengah pesta ini.
Aldo berhenti didekat kolam ikan koi disamping pondok kecil yang dulunya sering dijadikan tempat bermain Ajeng dan Lala kalau bosan dikamar. Aldo bersandar pada tiang pendasi pondok kecil itu, sementara Ajeng duduk diatas jembatan mini yang membelah kolam ikan koi itu, memain-mainkan kakinya yang terlihat kurus tetapi sangat putih.
“Kenapa membawaku ketempat ini?” tanya Ajeng pura-pura tidak mengerti.
“Kenapa kamu datang kepesta bodoh ini?” Aldo menaikkan nada bicaranya, terlihat kesal karena pertanyaan dan ekspresi Ajeng yang seolah tak acuh itu.
“Aku dapat undangan kok” Ajeng berlagak tegar, menyembunyikan hatinya yang tak menentu lagi saat ini.
“Kenapa memilih untuk datang?”
“Karena aku lihat kamu bahagia Mas” Ajeng setengah berteriak, membiarkan dirinya mengalah pada perasaannya, mengalah pada tatapan Aldo yang dari tadi tak bersahabat dengannya.
Aldo mendekati Ajeng, duduk tepat disampingnya kemudian memegang tangan Ajeng yang dingin dan gemetaran menahan tangis. “Kamu tak harus melakukan ini Jeng. Mas tidak mau kamu terus terusan terluka. Fikirkanlah kebahagiaanmu. Atau kamu berubah pikiran? Kamu mau pergi dengan Mas? Meninggalkan semuanya? Hanya kita berdua saja. Kamu mau dek? Mas masih berharap kamu disamping Mas, jadi ibu dari anak-anak Mas, kita tua bersama, kita runtuhkan semua dinding yang menghalangi kita, Cuma kita saja dek, kamu mau?” Aldo melunak dan berusaha mencari pandang dengan mata Ajeng yang dari tadi tertunduk. Kata-katanya mengingatkan Ajeng pada 6 bulan yang lalu saat mereka mengakhiri hubungan cinta mereka.
Saat itu adalah hari paling berkabut yang pernah mereka jalani seumur hidup mereka. Akan banyak orang yang terluka jika mereka tetap bertahan sebagai kekasih. Aldo yang dari keluarga sangat kaya tentu bukanlah jangkauan bagi anak yatim yang jarang bertemu dengan ibunya sendiri meskipun hidup dirumah yang sama seperti Ajeng, dia beruntung punya sahabat sebaik Lala tapi itu tidak cukup untuk meyakinkan orang tua Aldo bahwa mereka berdua boleh bersama.
Ajeng tidak menyalahkan siapa-siapa akan hidupnya yang kurang beruntung. Dia berharap kisah cintanya dengan Aldo berakhir seperti dongeng ataupun sinetron ditelevisi, tapi dia tahu jika ini semua adalah dunia nyata, tak semua cerita bisa berakhir bahagia seperti yang dia harapkan. Kadang orang-orang harus berkorban besar untuk sesuatu yang besar, tapi bukan berarti dia harus mengorbankan hidup Aldo, hidupnya, hidup Lala sahabatnya dan hidup keluarga yang membesarkan mereka. Kadang cinta juga harus berkorban banyak meskipun itu adalah dirinya sendiri.
Aldo menyandarkan kepalanya dibahu Ajeng dan membuat Ajeng kembali kedunia nyata. Ajeng melepaskan genggaman tangan Aldo kemudian merangkul pundak Aldo dan memeluknya erat-erat. “Jangan menyesal Mas. Biarkan saja kenangan menuliskan kisah kita yang indah ini Mas. Aku yakin Tuhan punya rencana yang lebih baik untuk kita walaupun dalam rencana itu kita bukanlah pasangan tapi semua itu pasti lebih baik Mas. Aku ingin terus bersamamu Mas, melewati senja bersama dengan anak-anak kita dan mimpi-mimpi kita, menua bersamamu dan melewati semua masa sulit ini bersama, tapi kita bukan jodoh Mas, sekeras apapun kita memaksa tetap saja kita bukan jodoh Mas. Kita harus kuat, kita harus menerima keadaan ini Mas. Semua ini bukan akhir Mas, ini baru awal, semua orang punya cinta pertama dan ini cinta pertama kita Mas. Aku mencintaimu Mas” Ajeng membiarkan airmatanya tumpah lagi, terisak-isak dalam pelukan Aldo yang tak kalah eratnya. Aldo pun sama, hanya membiarkan air matanya jatuh, tak menahannya lagi. Semua itu begitu mengejutkan Ajeng, tidak pernah sebelumnya Aldo menangis dihadapannya, apalagi sampai terisak seperti sekarang ini.
“Aku tak ingin melepaskanmu dek. Ingin tetap begini” Aldo menyembunyikan wajahnya dibahu Ajeng.
“Aku juga Mas, tapi aku lebih tak ingin kita kehilangan semuanya, kehilangan semua kesempatan untuk bisa bertemu lagi. Kuasai diri kita Mas” Ajeng perlahan melonggarkan pelukannya, mengangkat wajah Aldo yang memerah, mengelap air mata dari pipi Aldo, memberikan ciuman mesra dikening Aldo, lalu kemudian mencubit kedua pipi Aldo “Dasar cengeeng..” canda Ajeng yang membuat Aldo tersenyum. Aldo selalu menyukai tindakan Ajeng yang spontan dan kadang menyentuh. Begitu banyak hal yang disukainya dari wanita itu sampai sampai dia tak tahu apa sebenarnya yang membuatnya jatuh cinta pada Ajeng. Aldo tertawa kecil, menertawai semua yang baru saja terjadi.
“Mas seperti anak kecil yang dibujukin ibunya ya dek” Sindir Aldo
“Emang siapa ibunya? Ajeng? Ogah ah punya anak kayak Mas Aldo” Ajeng membalas sindiran Aldo sambil tersenyum lebar. Mereka pun bangkit dari tempat duduk mereka sekarang dan berdiri berhadapan. Aldo memegang kedua tangan Ajeng yang sudah sedikit lebih hangat.
“Mas masih berharap adek jodohnya Mamas.”
“Loh terus mbak Nia jodohnya siapa? Jodohnya Mamas juga gitu? Wah serakah nih Mas” Ajeng berusaha menguasai hatinya yang terhenyuh dengan kata-kata Aldo.
Aldo hanya tersenyum manis, mendaratkan bibirnya dikening Ajeng yang tertutup poni. Ajeng memejamkan matanya dan menikmati bibir Aldo yang perlahan turun kepipi lalu kemudian bibirnya. Ajeng tersentak menyadari jika ini adalah ciuman pertamanya. Aldo membiarkan bibirnya bertahan cukup lama dipermukaan bibir Ajeng yang kenyal hingga Ajeng merasa panas dan melepaskan kecupan itu sebelum sempat membuka bibirnya. Aldo membiarkannya walaupun sangat menginginkan lebih dari itu semua.
“kamu serakah mas, sudah ambil cinta pertamaku, kamu ambil juga ciuman pertamaku” kata Ajeng yang membuat Aldo tertawa geli mendengarnya.
“Yang itu belum dikatakan ciuman dek, mau mas kasih tau bagaimana ciuman yang sebenarnya?” Aldo balas mencandai Ajeng dan membuat jantung Ajeng berdegub kencang lagi. Aldo tidak melakukannya meskipun sangat menginginkannya dan Ajeng hanya membiarkan semuanya berlalu, menggandeng tangan Aldo dan membimbingnya keluar dari tempat romantis ini. Aldo yang mengerti tindakan Ajeng hanya mengikutinya, tersenyum dan sedih bercampur, tapi tak ada penyesalan lagi, semuanya mungkin lebih baik seperti ini.
Mereka kembali kepesta mewah itu, Ajeng menemui Lala yang langsung disambut dengan senyuman oleh wanita cantik itu, dan Aldo menemui Nia yang dari tadi kebingungan mencarinya. Ajeng dan Aldo saling melirik sebelum kemudian semua orang berkumpul mengelilingi Nia dan Aldo dengan semua senyuman suka-cita. Aldo memasang cincin kejari manis Nia, sambil melihat senyum Ajeng sang mantan kekasih, masih berharap jika jemari yang sekarang dia genggam adalah jemari Ajeng. Tapi senyuman Ajeng seolah bicara, akan lebih baik seperti ini dan Aldo percaya.


Sabtu, 05 Desember 2015

Mati rasa...

Matahari telah bangun dari tidurnya, dan aku yang sudah selesai mandi dan siap-siap, berjalan melakukan rutinitasku ke sekolah, sesampainya di sekolah, aku pergi ke kantin, dan aku melihat seorang gadis cantik, bernama Nona, ya Nona adalah wanita yang pendiam, jujur aku suka padanya, karena ia kalem lalu aku mulai mendekatinya.
“Hi non?”
“Hi Lucky.”
“Non, lo sendirian aja di kantin.”
“Iya nih, lagi nungguin temen nih.”
“Ohh gitu, gue boleh duduk di sini?”
“Ya bolehlah, duduk aja kali.” sambil memegang tangan Lucky, lalu menariknya.
Aku pun duduk di samping Nona, saat aku duduk di sampingnya hati ini serasa bergetar, berdetak lebih kencang, tidak seperti biasanya, dan jiwa ini serasa melayang di udara saat Nona memegang tanganku, sungguh rasanya takut tapi bahagia.
Tett! Tett!. Bel sekolah pun berbunyi.
“Non, udah bel tuh, gue masuk duluan ya.”
“Oke deh Lucky, thanks ya udah nemenin gue.”
“Ya sama-sama.”
Lucky pun menuju kelasnya, Lucky adalah anak SMK jurusan AK, ia kelas 1, sedangkan Nona kelas 3. Lucky bertemu dengan teman-temanya, Deki, Ridho dan Julio, mereka pun belajar bersama saat pelajaran dimulai, tanpa disangka mereka sudah belajar 3 jam, bel istirahat pun sudah berbunyi.
“Dek, do, jul turun gak?”
“Tar aja deh Lucky, gue masih mau main game dulu.” jawab Deki.
“Iya Lucky, lagi seru nih, ntar aja kita nyusul.” sahut Ridho.
“Iya luc, nanti kita nyusul kok.” balas Julio.
“Oh, ya udah deh, gue turun duluan ya.”
“Iya.” jawab Deki, yang lain pun menganggukkan kepalanya.
Aku pun turun, untuk ke kantin, dan aku melewati kelas 3 SMK, saat aku lewat, langkah kakiku terhenti, karena Nona memanggilku.
“Kenapa non?”
“Ah gak apa-apa kok, cuma mau bareng aja ke kantinnya.”
“Oh, gitu, ya udah ayo turun.”
Aku dan Nona pun turun menuju ke kantin, kami berbincang-bincang dengan puas, dan tanpa sadar aku pun bertanya pada Nona.
“Non lo udah punya cowok?”
“Hmm gak tuh gue masih single, emangnya kenapa? Lo mau jadi pacar gue?” Balas Nona sambil meledek. Aku pun terdiam, dan tidak tahu harus jawab apa, sampai-sampai wajahku penuh dengan keringat.
“Eh. Enggak cuma nanya aja kali.” balasku setelah lama berpikir.
“Hahahaha, dianggap serius banget, cuma bercanda kali, sampe keringetan gitu.”
Tanpa disangka Nona mengambil sapu tangan, dan mengelap keringatku, aku sungguh gemetar, tapi juga senang. Detik berganti, menit, menit pun berganti jam, tanpa disangka sudah saatnya pulang sekolah.
Hari demi hari, aku dan Nona pun semakin dekat, kami selalu bercanda-canda, dan curhat, tapi aku tak bisa menahan rasa ini lagi, lalu aku pun menyatakan perasaanku pada Nona lewat sms, tapi Nona minta aku menyatakan perasaan itu langsung di depannya.
Keesokan harinya saat bertemu di sekolah, aku sedikit takut dan ragu, tapi aku benar-benar menyatakan perasaanku langsung di depan Nona dan teman-temanya, dan hanya tinggal menunggu hasilnya saja, tadinya aku memang sangatlah khawatir, jika ditolak sungguh aku akan menanggung malu, tapi ternyata pikiranku salah, Nona menerimaku menjadi pendamping hidupnya pada tanggal 05-12-2013.
Hubungan kami berjalan dengan lancar, tapi Nona sama sekali tidak punya waktu untuk jalan saat malam minggu, atau hari lain-lainya, karena memang Nona dikekang oleh keluarga Omnya, yang membuat aku sedih adalah, karena Nona dibuat bagaikan pembantu. Padahal Nona itu adalah keponakannya, sungguh ku sangat ingin membantu Nona, hatiku rasanya sedih mendengar Nona menangis di dalam telepon, aku pun selalu menyemangati dia, agar dia tidak salah tindakan, segala semua perhatianku pun kuberikan pada Nona, agar dia tidak merasa dunia ini tidak adil.
Waktu kami bertemu hanyalah saat minggu malam, itulah saat kami beribadah gereja bersama di GKI Cipinang indah, hanya di saat itu dan di sekolah saja aku bisa bertemu dengan Nona, aku bisa bersabar dan bisa setia dengan hubungan ini, walau Nona selalu tidak ada waktu untukku, aku sangat percaya, bahwa di balik ini semua pasti Tuhan punya rencana indah. Sampai pada suatu saat, Nona minta untuk menyudahi hubunganku denganya, karena ia merasa bahwa ia tidak pantas untukku.
“Lucky, maaf aku mau kita putus ya.” dengan kaget aku segera membalas smsnya dengan cepat.
“loh, kenapa non? kita juga baru beberapa minggu, aku gak mau kalau kita putus gini Nona, emangnya kamu udah gak sayang sama aku?”
“bukanya gak sayang, aku sayang sama kamu, tapi aku gak mau aja gara-gara aku kamu jadi ikut-ikutan susah dan sedih.”
Aku pun membalas smsnya. “sayang, kita ini udah pacaran, jadi susah maupun senang, dan gembira maupun sedih harus dijalankan bersama, aku gak pernah mengeluh kok, aku gak pernah nyalahin kamu kalau aku susah ataupun sedih, karena aku sayang dan cinta sama kamu itu tulus apa adanya.”
Tak mau lama menunggu balasan sms Nona, aku pun telepon Nona dan telepon itu langsung diangkat sama Nona. “hallo, sayang? kamu baik-baik aja kan?”
Nona tidak menjawab, tapi aku mendengar suara orang menangis, dan ternyata yang menangis itu Nona.
“sayang, kamu kenapa nangis?”
“gak apa-apa kok, aku cuma terharu aja, baru kali ini aku diperhatiin dengan tulus, dan baru kali ini aku punya pacar yang bisa menerima aku apa adanya dengan tulus.”
“ya ampun sayang, aku itu memang tulus mencintai kamu apa adanya, jadi kamu gak usah sedih ya, apapun yang terjadi aku pasti bakalan tetep ada buat kamu sayang, dan kalau kamu punya masalah cerita sama aku, biar kita bisa menyelesaikan masalah ini bersama.”
“iya, makasih banyak ya sayang.”
“iya sama-sama, ya udah hari sudah malam, kamu tidur gih, kan besok sekolah.”
“iya-iya, ya udah aku tidur dulu ya sayang, Guten Aben sayang.”
“iya Guten Aben.”
Matahari telah bangun dari tidurnya, dan aku pun sudah siap untuk bergegas ke sekolah, untuk mengikuti pelajaran dan bertemu dengan orang yang spesial di dalam hatiku, sesampainya di sekolah, aku selalu menunggu Nona di depan sekolah, sampai pada akhirnya dia datang.
“good morning sayang.”
“good morning juga.”
“kamu udah makan sayang?” tanyaku pada Nona.
“belum sayang, tadi gak sempet makan.”
“ya udah, kita makan dulu yuk!”
“iya.”
Kami pun pergi ke kantin dan memesan makanan.
“sayang sebentar lagi kita bakalan bagi rapot, dan libur panjang pasti kita bakalan susah ketemu.” kata Nona padaku.
“ya gak apa-apa kok sayang, yang penting kan kita masih bisa ketemu pas minggu malam.” balasku pada Nona.
“makasih ya sayang, kamu mau setia dan pengertian sama aku.”
“iya, sayang.”
Sudah 4 hari kami class meeting, dan sekarang tiba waktunya kami bagi rapot, aku sungguh puas dengan hasil nilaiku yang bagus, dan meraih rengking 4, tapi ada satu hal yang buat aku sedih dan tidak puas, di saat akan libur panjang, aku tidak bisa bertemu dengan Nona, dan liburnya pun terlalu lama. Tapi untungnya kami masih bisa berkomunikasi, walau hanya lewat sms dan telepon saja, detik berganti menit dan menit berganti jam, jam pun berganti hari.
Sekarang adalah tanggal 24-12-2013, aku dan Nona pun berencana untuk beribadah malam natal bersama, di sebuah gereja batak di pondok bambu, malam natal itu adalah malam natal yang indah, sepanjang jalan kami selalu bergandengan tangan, dan aku pun dikenalkan oleh Nona pada Kakak-Kakaknya, dan Kakak-Kakaknya Nona pun menerima aku dengan suka cita.
Selesai beribadah, aku pun ingin mengantarkan Nona sampai rumahnya, tapi dilarang oleh Kakaknya, yang bernama Rina, Kak Rina melarang karena ini sudah malam, ia takut kalau aku tidak akan dapat angkot 31, akhirnya aku pun pulang, dengan kenangan yang indah pada saat malam natal tadi.
Sepanjang hari aku selalu memberikan perhatianku hanya pada Nona, karena sungguh aku sangat mencintainya. Empat hari pun berlalu dan sekarang adalah tanggal 29-12-2013, dan aku pun ingin pergi beribadah minggu bersama Nona di GKI cipinang indah, malam itu Nona agak berbeda, tapi aku tidak menangapinya dengan serius. Selesai gereja, aku pun mengantarkan Nona sampai di dekat rumahnya, dengan motor, di situ aku pun berpisah dengan Nona. Sampainya di rumah, aku segera mandi, dan sms Nona, kami pun saling berbalasan sms.
Keesokanya Nona semakin aneh, aku sms dia tapi sama sekali tidak ada balasan, di saat itu aku masih berpikir, “ahh mungkin pulsanya habis.” dan aku tunggu sampai siang tapi tidak juga dibalas, oleh karena itu, aku mencoba untuk telepon Nona.
Tuuttt! Tuuttt! Tuuttt! Tuuttt!.
Tapi ada hal aneh, telepon itu tidak diangkat, biasanya langsung diangkat, dan aku coba untuk berpikiran positif, dan sampai malam pun tidak ada kabar sama sekali dari Nona. Keesokan harinya juga sama saja, Nona tidak ada kabar, hatiku sungguh sangat sedih dan hancur, bahkan sampai-sampai aku memukul tembok hingga hancur, aku selalu melampiaskan sakit hati ini pada tembok, ya walau akhirnya tanganku jadi bonyok.
Sampai pada malam tahun baru, Nona juga tidak ada kabar sama sekali, sungguh ku tidak bisa menahan rasa sakit, dan rasa rindu ini. Malam tahun baru saat ini ialah malam tahun baru yang paling buruk, dan tidak istimewa sama sekali, bagiku malam tahun baru ini, sama seperti malam-malam biasanya sebelum aku mengenal Nona. Sampai tahun berganti pun, Nona sama sekali tidak ada kabar, sungguh ku sangat khawatir dengan keadaannya, aku tidak sabar ingin cepat masuk ke sekolah, karena hanya saat masuk sekolah sajalah aku bisa bertemu dengan Nona.
Tak disangka pun libur hanya tinggal 1 hari, aku sangatlah tidak sabar untuk bertemu Nona, dan menanyakan maksudnya ini semua agar tidak terasa lama menunggu libur usai, aku pun tidur. Dan mengisi hari terakhir ini dengan segala kegiatan.
Hari ini pada tanggal 07-01-2014, libur telah usai, dan aku pun segera buru-buru bergegas masuk ke sekolah untuk bertemu dengan Nona. Sampainya di sekolah memang aku melihat Nona, tapi Nona langsung masuk ke kelas saat ia melihatku, tanyaku dalam hati, “kenapa sih? emang aku buat salah apa sama kamu non, sampai-sampai kamu buang muka gitu, padahal kita masih ada status hubungan sampai saat ini, aku juga udah memberikan semua perhatianku hanya untuk kamu seorang, aku udah setia sama kamu, tapi kenapa? kenapa kamu jadi kayak gini sih? kamu itu gak tahu kan perasaan aku saat ini? Sakit non, Sakit.”
Aku pun segera masuk kelas dengan wajah sedih, dan Ridho pun bertanya. “lo kenapa lagi Lucky?”
“eggak do, gak apa-apa kok.” balasku dengan nada pelan.
“gak mungkin, udah deh gak usah bohong sama gue, jujur aja lo kenapa luc.”
“saat ini gue masih belum bisa cerita sama lo do, mungkin nanti tunggu waktu yang tepat.”
“ya udah, lo gak usah sedih lagi ya.”
“iya, thanks ya do.”
“iya.”
Pelajaran pun dimulai, dan dalam pelajaran itu pun aku melamun, memikirkan Nona, dan membuatku tidak paham dengan penjelasan guru, lalu tanpa sadar guru itu memanggil namaku.
“Lucky, coba ulang apa yang barusan ibu bilang.”
Namun ku tetap terdiam dan melamun, sampai akhirnya ada yang menepuk pundakku, dan membuatku sadar bahwa guru memanggilku.
“ap-apa bu?”
“coba ulangi yang ibu jelaskan barusan!”
“maaf bu, saya tidak paham.”
“makanya jangan melamun terus, ya udah sekarang kamu ke kamar mandi, cuci muka sana.”
“baa-baik bu.”
Aku pun menuju ke kamar mandi, dan membasahi mukaku, dan aku pun menangis, karena perasaanku saat ini benar-benar hancur, aku selalu bertanya pada tuhan, “ya Tuhan kenapa ini semua harus terjadi padaku, padahal aku benar-benar mencintainya.”
Tak mau kena marah lagi, aku pun menghapuskan air mataku dan kembali ke kelas. Dua jam berlalu dan bel istirahat pun sudah berbunyi. Saat aku ingin turun, aku melihat Nona, tapi ia tampak cuek dengan kehadiranku, bahkan ia melewati aku seperti orang yang tidak kenal, hatiku semakin hancur, dan aku masih mecari-cari jawaban dari semua ini.
Beberapa menit kemudian, barulah bel berbunyi, pertanda bahwa pelajaran akan dimulai kembali. Sama seperti pertama, aku mengikuti pelajaran tanpa semangat, dan lebih banyak melamun, memikirkan Nona. Sampai pada akhirnya bel pulang pun berbunyi. Aku segera membereskan buku-bukuku, dan turun ke bawah, saat ku turun ada temannya Nona menghampiriku.
“eh Lucky, lo ditungguin Nona tuh, di deket perpus.”
“oh iyaa, thanks ya.”
Tanpa mau menunggu lama aku pun segera menuju ke perpus, dan ternyata benar, Nona memang sudah menungguku. Aku sudah melihatnya dari jauh, tapi perasaanku ada yang aneh, entah kenapa aku berpikir, pasti Nona minta putus deh. Kata-kata itu selalu bermunculan dalam pikiranku saat ini. Aku sudah sampai di depan Nona, dan Nona pun kelihatannya cuek sekali, dan saat itu aku mulai mengeluarkan pertanyaan-pertanyaanku.
“non, kamu kemana aja sih? kenapa gak ada kabar? aku khawatir tahu gak sih!”
Nona hanya terdiam, dan aku pun memberikannya pertanyaan lagi.
“terus tadi kenapa pas lewat di depan aku, kamu kayak orang gak kenal sama aku, padahal kita masih ada hubungan non, masih ada hubungan!”
Lalu Nona pun menjawab. “sorry ya Lucky, sebenarrnya selama ini gue terima lo, cuma buat waiting seseorang, dan gue gak pernah serius sama lo, walau lo begitu perhatiannya sama gue, tulus sama gue, tapi gue sama sekali gak punya rasa sama lo, dan sekarang gue mau kita putus.”
Lalu Nona segera pergi meninggalkan aku sendiri di perpus, aku pun terdiam dan aku tak tahan rasa sakit ini. Aku memukul-mukul tembok, hingga tanganku memar-memar, dan sungguh sejak saat itu aku mati rasa, aku tidak bisa mencintai siapapun lagi, sungguh pengalaman yang pahit, yang membuatku takut untuk mencari penggantinya, dan membuat luka yang begitu dalam. Hingga bekasnya pun tidak bisa hilang.
Sejak saat itu aku selalu hati-hati saat ada wanita yang baik dan perhatian padaku, tapi tetap aku tidak marah pada Nona, aku tetap memaafkan dia, karena aku sadar, kalau kita berani mencintai itu, berarti kita juga harus berani sakit hati. Tapi ada satu kata-kata dari seorang sahabatku, yang membuatku mampu menghadapi persoalan ini, kata-kata inilah yang membuat mati rasaku hilang.
“Ketika kamu terluka, jangan biarkan dirimu menyerah. Tak perlu takut akan sakit yang ada, karena itu bukan derita, itu cinta.”


Kenangan masa lalu...
Charlotte termenung di sebuah restoran, menunggu pacarnya, Jacob yang telat lagi. Charlotte mulai mengingat lagi hari pertamanya bertemu Jacob. Tidak terasa ini tahun ke-3 mereka berpacaran. Sekarang Charlotte kelas 10, begitu juga Jacob. Mereka seakan takdir! Mereka berdua selalu sekelas dan sekelompok. Charlotte terkikik mengingat bahwa Jacob berkata bahwa itu kutukan dengan nada diseram-seramkan dan wajah dibikin mengerikan. Charlotte bertemu Jacob saat PG. Mereka bersekolah di sekolah yang sama. Mereka pun bersahabat. Lalu TK, Charlotte pindah. SD kelas 1, mereka bertemu lagi dan ini bagian gilanya. Anak kelas 1 SD sudah saling suka!!! Haduh, percaya nggak sih? Susah percaya kan? Tapi itu kenyataan. Kelas 4 SD, Jacob mendapat saingan dalam memperebutkan Charlotte, Arvin. Sayang sekali, Arvin yang menang. Charlotte lebih menyukai Arvin. Jacob sangat terpukul. Ia berusaha tetap setia. Akhirnya Jacob tidak tahan lagi saat kelas 5 SD. Dia berusaha berhenti menyukai Charlotte. Ajaibnya, Charlotte baru sadar bahwa Jacob lah yang benar untuknya. Charlotte benar-benar berharap untuk kembali ke Jacob. Jacob agak susah menerima Charlotte lagi, tapi akhirnya karena kekuatan cinta, mereka berhasil baikan. Tahu apa yang membuat mereka cocok? Mereka berdua lahir di rumah sakit yang sama, tanggal lahirnya dekat, wajahnya hampir mirip, senyumnya mirip, sifatnya yang suka tantangan mirip, hampir semua sikapnya mirip, tingginya hampir sama (Jacob lebih tinggi sedikit), hobinya sama. Gila nggak? Charlotte lagi-lagi terkikik sendirian. Ia mulai mengenang…
Kelas 2 SD
“Hey, Charlie…” Sapa Jacob. “Apa?” Tanya Charlotte. “Ih, dingin amat?” “Haduh, lagi gak mood nih,” keluh Charlotte. “Loh? Kenapa?” Tanya Jacob. “Gak tau. Bad mood tuh kan seringnya tanpa alasan,” kata Charlotte. “Oh ya? Cheer up dong, nanti biar seger lagi ya. Senyum dulu biar cantik,” kata Jacob. Charlotte wajahnya langsung merah padam. “A-ah…” “Hehe, gitu dong, senyum,” tawa Jacob. Charlotte pun tersenyum lagi.
Kelas 3 SD
“Hei kalian! Kembalikan Fluffy! Kembalikan!” Seru Charlotte saat Fluffly, boneka kotak pensil Charlotte yang berbentuk anjing kecil direbut darinya oleh cowok-cowok nakal. “Hei! Kembalikan!” Tiba-tiba Jacob datang dan menolong Charlotte. “Ya deh. Jacob suka Charlotte nie… Cieee…” Ledek Rob. “Kalau iya emang kenapa?” Kata Jacob berani. “Ueak… Charlotte dapat pangeran nih. Cieee…” Nelson jadi ikut-ikutan meledek. Wajah Charlotte jadi merah padam. “Nih, Fluffy mu. Jangan sampai hilang ya, nanti Tiger kesepian,” kata Jacob sambil mengembalikan Fluffy Charlotte. Tiger sendiri adalah boneka kotak pensil Jacob. Mereka berdua memang serasi.
Kelas 4 SD
“Char, kamu suka siapa?” Tanya Jacob. “Aku suka kamu la… Siapa lagi,” kata Charlotte sedikit bercanda. Jacob tersenyum lebar, puas. Tapi tiba tiba Arvin merebut Charlotte dari Jacob. Sangat disayangkan. “Charlotte… Aku suka kamu forever… Pokoknya,” gumam Jacob lirih.
Kelas 6 SD
“Maafin aku ya, Jacob. Maaf…” Tangis Charlotte. “Kenapa minta maaf?” Tanya Jacob dingin. “Aku ninggalin kamu… Maaf, Jacob… Maaf…” Tangis Charlotte pelan. Jacob paling tidak bisa melihat Charlotte menangis. “Iya, iya, tuan putri. Aku suka kamu…” Jawab Jacob akhirnya. Charlotte sangat senang dan akhirnya ia memeluk Jacob.
Charlotte tersenyum mengingat semua itu. “Hai… Sori aku telat,” kata Jacob. “Oh, itu nggak bisa dimaafin,” canda Charlotte. “Ya elah… Ampuuun… Yang bener lah. Sori ya,” kata Jacob. “Iya deh. Aku nggak bisa marah sama kamu sih, ehe. Aku baru ingat-ingat masa-masa kenangan kita dulu loh,” kata Charlotte. “Sekarang kenangan baru akan kita buat lagi,” kata Jacob sambil mengecup kening Charlotte.

 Terima kasih

mohon beri komentar anda r=tentang cerita saya..

Senin, 30 November 2015

Namaku Dita, aku adalah seorang gadis yang sederhana, ramah, dan pintar. Rambut panjangku sering dikuncir kuda dan memakai kacamata. Aku bersekolah di SMA HARAPAN BANGSA, yaitu salah satu sekolah terfavorit dan termahal. Aku berasal dari keluarga terpandang, tapi aku lebih memilih merahasiakannya, karena mendapatkan beasiswa dara sekolahku dulu.
“Dit, kamu tahu tidak?” kata Maya sahabatku.
“Tahu kenapa?” jawabku.
“Kita bakal dapat teman baru loh, ganteng lagi,” Maya bersemangat bercerita. Aku langsung tertawa mendengar berita tersebut.
“Yah, baguslah.”
“Aku serius, katanya siswa baru tersebut ganteng banget.” Kata Maya. Aku tidak pedulikan hal itu, langsung meninggalkan Maya yang masih asyik dengan ceritanya.
“hii, dasar kamu yah, tidak normal bangat jadi cewek, mestinya seneng dong,” geram Maya sambil mengikuti dari belakang.
Saat berada di kantin aku tidak sengaja menumpahkan es krimku, dan mengenai baju seseorang. Aku tak menyangka kenapa aku seceroboh itu, tapi alangkah terkejutnya aku melihat lelaki di depan sangat menarik dan tampan sekali.
“Huppp.. ma..maaf yah, aku tidak sengaja,” akupun tergagap.
“Kamu punya mata tidak. Oh, yah aku lupa kamu kan pakai kacamata, buta kamu yah?” geram lelaki tersebut.
“Maaf, aku kan sudah bilang aku tidak sengaja,” dengan menundukkan kepalaku.
Lelaki itu langsung pergi meninggalkanku dengan tatapan sinis. Aku tak menyangkah lelaki itu bisa sekasar itu. Aku pun dikejutkan dengan bel yang berbunyi tandanya masuk kelas, siswa-siswa SMA HARAPAN hening sejenak. Di kelas aku menceritakan kejadian di kantin, Maya pun tertawa mendengarku.
“Jadi, cowok itu marah tidak sama kamu?” tanya Maya padaku.
Tak sempat ku menjawab tiba-tiba ada seorang siswa lelaki masuk di kelas kami. Semua mata tertuju pada lelaki tersebut, bahkan ada yang menelan air ludah. Ternyata lelaki yang marah-marah di kantin tadi adalah siswa baru.
“Assalamualaikum..” salam lelaki tersebut.
“Waalaikum salam..” jawab kami serempak. Bu Ani pun menyapa lelaki itu, dan bilang kalau dia adalah teman baru kami.
“Nah.. ini yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga, cakep pisan uyy.” Maya terpukau.
“Kenalin teman-teman nama saya Riko,” dengan lantang Riko memperkenalkan dirinya.
“Riko, kamu duduk di sebelah Rey yah!” kata Bu Ani sambil menunjuk tempat dekat Rey.
“Ya bu, makasih,” jawab Riko. Pelajaran pun di mulai seperti biasanya.

Keesokkan harinya, aku pergi ke sekolah berjalan kaki dari tempat sopirku mengantarkanku, dengan santainya. Tiba-tiba, “berrrttt!!”
Aku tersiram air dari mobil di sampingku. Aku pun langsung menghampiri mobil yang sengaja berhenti dan menungguku sampai di dekatnya. Dengan geram aku langsung mengedor pintu mobil orang itu, tak lain yaitu Riko.
“hey rusak tahu mobil gue digedor-gedor,” muka Riko merah padam.
“Lo tuh yah gak punya perasaan, gue tahu lo hebat dan punya segalanya, tapi bisa sopan dikit kenapa.”
“Masalah buat lo, suka-suka gue dong,” Riko cuekin Dita. Dengan kencangnya mobilnya melaju.
Aku pun merasa kesal dengan Riko yang sombong dan angkuh. “Orang kaya emang gitu,” sambil berjalan lagi.
Sampai di kelas aku dikejutkan dengan tatapan sinis oleh teman sekelasku yang dari dulu iri dan benci padaku. Tapi aku tak peduli, aku langsung mendekati Rey yang sejak tadi menungguku.
“Kok, hari ini datangnya agak terlambat Neng?” kata Rey kepadaku.
“Iya Mas. Tadi Ibu menyuruh aku menemani adikku dulu,” jawabku membohongi Rey. Mendengar percakapan itu, Riko yang berada di sebelah Rey agak risih.
“Rey, kamu pacaran sama cewek ini, kayaknya pertanyaanlah lo gitu amat,” tanya Riko yang dari tadi memperhatikan kami.
“Hehehe… maunya sih, tapi si Ditanya gak merespon terus,” jawab Rey malu-malu.
“Yang bener si Mas? Jadi GR,” kataku dengan kelihatan santai.
“Widih.. selerahmu parah amat. Hahaha..” ngeledek Rey.
“Memang kenapa, Rik. Dita itu selain pintar, dia juga baik.” Rey memujiku. Aku tak menyangka dengan ucapan Rey, aku tak percaya Rey sangat memperhatikanku.
“Maaf yah, Mas. aku permisi dulu,” sambungku.
“Okey, silahkan Neng.”
Di kelas Riko melamun, pikir dalam hatinya, “Masa iya Rey kagum dengan sosok cewek jelek itu.”
Tiba-tiba bahu Riko dipegang cewek cantik, seksi dan kelihatannya sangat agresif.
“Hai, lagi ngelamunin apaan Rik?” sambil pegang-pegang Riko.
“Hemm, gak mikirin apa-apa kok. Aku hanya mendengar suara kamu yang merdu sekali, Put.” kata Riko dengan gombalnya.
Putri yang merayu Riko pun senang dengan ucapan itu. “Ke kantin yuk!” ajaknya pada Riko.
“Oke, dengan satu syarat kamu mau jadi pacarku!” tantang Riko.
“Oke! Siapa takut.” Jawab Putri senang.
Akhirnya ia bisa mengajak Riko pacaran, setelah beberapa kali ia ditolak Rey. Kemudian keduanya langsung menuju kantin. Riko yang melihat Rey dan aku yang kebetulan sedang makan. Ia pun langsung menggenggam tangan Putri, dan menuju ke meja Rey dan Dita.
“Mesra banget kalian, pacaran yah?” tanya Rey.
“Yah dong, kenalin nih pacar baru gue. Cantik kan?” jawab Riko yang kelihatan minta perhatian dariku
Aku yang sejak tadi makan, cuek dan tidak memperhatikaan omongan dari Riko. Aku pun mengajak Rey kembali ke kelas.
Pulang sekolah Riko langsung menuju kamarnya, ia selalu terbayang-bayang wajahku yang ayu walau pakai kacamata, tapi kelihatan aku indah sekali. Ia pun heran, kok bukan Putri yang ada di pikirannya, malah diriku. Asyik dalam lamunannya, Riko dikagetkan dengan kedatangan tamu.
“Den Riko, ini ada pesanan kue untuk nyonya.” kata bi Ida.
“Yah Bi, tunggu sebentar.” Keluar dari kamarnya.
“Mana kuenya Bik?” tanya Riko pada bi Ida.
“Itu di depan Den,” tunjuk bik Ida.
Riko pun keluar, betapa kagetnya ia ternyata yang menghantarkan kue itu cewek cantik dengan penampilan menarik. Ia tak sadar bahwa itu aku.
“Kamu. Ini rumahnya bu Minah kan?” tanyaku heran.
“Iyah bener, aku anaknya. Kok wajah kamu mirip..” tak sempat Riko bicara. Dia baru sadar ini aku, cewek yang ia jahilin di sekolahnya.
“Kenapa, tidak usah heran yah biasa saja.” Jawab Riko pura-pura jutek.
Riko diam-diam memperhatikan penampilanku yang memakai rok mini dan rambutku yang sering dikuncir sekarang diurai dan kelihatan sempurna. “Kok, beda banget yah di sekolah dengan kesehariannya, ternyata Dita sangat cantik. Hupp!! Ngapain gue pikirin kayak gitu. Bodoh amat.” pikir Riko dalam hatinya.
“Ya udah, nih pesanan tante Nila, bilang sama beliau mungkin ini terakhir kami kirim, soalnya kami mau pindah.” kata ku dengan santai.
“Apa, mau pindah? Pindah ke mana, sekolah kamu juga pindah?” tanya Riko tiba-tiba pedulikanku.
“Yah, Rik. Aku mau pindah juga. Kami sekeluarga pindah ke Lampung.” jawabku dengan lantang.
Riko pun merasa kasihan denganku. “Tapi, bagaimana dengan sekolahmu Dit? Kamu kan sekolah di sini dengan beasiswamu, kan sayang bila ditinggalkan,” kata Riko yang nampak takut kehilanganku.
“Hahaha… kamu peduli sekali sama aku? Makasih yah Rik!” kataku sambil tersenyum pada Riko.
“Jangan kepedean yah, aku hanya menyarankan, kamu mau pindah juga terserah. Memangnya aku peduli,” kata Riko yang tiba-tiba berubah kepadaku.
“Ya sudah, aku mau pulang dulu yah, sekali lagi thanks yah!” kataku dan kemudian pergi meninggalkan riko yang masih nampak kebingungan.
Keesokkan harinya, pagi-pagi Riko sudah datang ke sekolah, Ia langsung mencariku. Akan tetapi, ia tidak menemukanku. Dari kejahuan, Riko melihat seseorang yang tak lain yaitu aku sendiri. Penampilanku sangat berbeda dari biasanya. Aku sengaja tidak memakai seragam sekolah, rambutku yang panjang kubiarkan terurai, bahkan aku juga tidak memakai kacamata yang biasanya kupakai di sekolah. Sangat sempurna sekali. Riko yang melihat pandangan itu pun tak berkedip. Ia langsung mendekatiku.
“Hmmm… Dita. Kamu beda sekali hari ini?” katanya memujiku.
“dan kenapa tidak memakai baju seragam sekolah, kamu pikir di sini tempat kondangan!” canda Riko kepadaku.
“Apa urusan sama kamu?” jawabku dengan wajah tersenyum lebar. Belum sempat Riko berbicara, aku langsung menghentikan pembicaraannya.
“Oh ya.. Rik, aku permisi dulu yah mau ke kantor dulu.”
Di kantor bu Rini menanyakanku dan menyarankan aku untuk tidak jadi pindah.
“Apa sudah dipikirkan matang-matang Dit?” tanya bu Rini selaku kepala sekolahku.
“Ya, Bu. Orangtuaku pindah kerjaan di Lampung.”
“Memangnya apa kerjaan Ayah-Ibu kamu?” tanya bu Rini.
“Mama buka restoran baru dan papa memimpin proyek baru di sana,” tegasku.
“Oh, mama dan papa kamu hebat yah, Dit. Pantas saja kamu pintar.” puji bu Rini.
“Ibu bisa saja, memujinya terlalu tinggi.”
Kemudian aku langsung ke kelas, aku ingin pamitan dengan teman-teman. Sampai depan kelas, aku dikagetkan dengan ucapan di papan tulis yang menyatakan “POKOKNYA DITA TIDAK BOLEH PINDAH, KALAU SAMPAI PINDAH AKU JUGA IKUT PINDAH”
Tak ada satu pun yang mengakui tulisan itu.
“Mas Rey, yang menuliskan itu ya?” tanyaku penasaran.
“Tidak, Dit. Aku memang tidak setuju kamu pindah. Tapi itu sudah keputusanmu. Aku dukung sepenuhnya.”
Tiba-tiba Riko datang dan mengatakan bahwa dialah yang menuliskan kata-kata itu. Semua siswa terkejut, tak terkecuali Putri.
“Sialan tu cewek udah rebut Rey, sekarang dia ngambil perhatian pacar gue, dasar cewek kampret gak tahu diri,” geram Putri dalam hati.
“Riko, kok kamu seperti ini. Ini bukan Riko yang ku kenal. Kamu kan tidak suka sama aku, sekarang kamu malah tidak setuju aku pindah,” tanyaku bingung.
“Pokoknya aku tidak mau kamu pindah, karena aku cinta sama kamu. Ngerti!!” tegas Riko.
Aku benar-benar tak menyangka, bahwa Riko mengungkapkan perasaannya. Rey yang mendengar pun langsung marah dan menonjok wajah Riko. Tapi pertengkaran itu terhenti ketika bu Ani masuk kelas.
Pulang sekolah aku langsung menuju rumah, aku terkejut dengan kedatangan Riko yang sejak tadi ada di teras rumahn.
“Riko, kok kamu bisa tahu rumahku, terus ngapain ke sini?” tanyaku.
“Aku kemarin ngikutin kamu pulang. Dit, kuharap kamu jangan tinggalin aku. Aku janji tidak bakal nyakitin kamu, dan aku…” belum sempat bicara Mama keluar.
“Ada tamu yah? Kok gak diajak masuk temannya.”
“Oh yah, ini teman sekolah aku Ma,” kata Dita malu-malu.
“Teman apa teman, yah sudah Mama tinggal dulu.” Aku dan Riko bertatap muka sambil tersenyum.
Pukul 04.30 WIB Riko pun pulang dari rumahku, ia lega ternyata aku tidak jadi pindah dikarenakan Papa dapat proyek baru lagi di Jakarta. Sampai di rumah Riko berencana untuk menembakku di sekolah besok pagi.
Aku pagi ini sudah tak lagi jalan kaki dari tempat biasanya ia diantarkan sopir, sekarang aku membawa mobil sendiri. Dengan mengenderai mobil BMW B 121 aku melaju di parkiran dengan santainya. Tiba di sekolah betapa terkejutnya aku melihat di depan gedung sekolah bertuliskan.
“AKU SENANG KAMU TIDAK JADI PINDAH, JANGAN TINGGALIN AKU LAGI YAH. I LOVE YOU DITA KU SAYANG, MAU TIDAK JADI PACARKU.”
Balon-balon pun berterbangan seakan benar-benar menyambut kedatanganku pagi ini.
“So sweet banget yah Riko, Dita emang is the best.” Kata Maya temanku. Aku tersenyum heran siapa yang berani ungkapkan perasaannya pagi-pagi ini.
“Riko, ya pasti aku yakin sekali pasti dia,” pikirku dalam hati.
Putri yang melihat kejadian itu iri dan merasa ini tak adil untuknya. Kenapa setiap yang lagi dekat dengannya selalu berpindah ke padaku. Putri mencari Riko dan meminta penjelasan atas apa yang dilakukan Riko terhadapnya. Sampai di kantin ia menemukan Riko dan genknya yang lagi tertawa riang.
“Riko… Apa yang kamu lakukan, kampungan sekali. Kamu itu kan pacar aku, harusnya kamu sayangnya sama aku. Bukannya Dita, yang paling aku benci. Aku tidak terima,” geram Putri.
“Hey Put, siapa juga mau jadi pacar kamu, sudah galak, norak lagi. Mulai detik ini kita putus, aku udah bosan sama kamu,” tantang Riko.
“Dasar yah cowok kurang ajar, sampai kapanpun aku tidak terima kamu jadian sama cewek perebut cowok orang itu,” sambil berlalu pergi. Putri tidak menerima kejadian ini, ia langsung mencari Rey. Ia bersekongkol agar aku dan Riko tidak pacaran. Rey yang mendengar kabar itu, langsung mendekati Riko yang nampak sendiri.
“Rik, lo tahu akibatnya kalau kamu masih deketin Dita. aku tidak segan-segan memberi perhitungan sama kamu,” ancam Rey.
“Kenapa, apa ada yang salah? Kamu bukan siapa-siapa Dita, ngapain aku harus berurusan sama kamu,” jawab Riko santai.
Tak sempat Rey bicara, tiba-tiba aku menghampiri mereka, aku yang mendengar percakapan mereka langsung marah sama Rey yang ku pikir dia baik sama aku.
“Mas Rey, apa aku tidak salah dengar. Apa ini yang mas Rey yang ku kenal dulu. Orang yang baik, dan tak suka pertengkaran. Aku kecewa sama mas,” sambil menangis.
“Dita, ini demi kamu. Aku sayang sama kamu, dan aku tidak mau kamu terkena rayuan gombal dia,” sambil menunjuk Riko.
“Aku sangat berterima kasih sama mas, tapi maafkan aku mas, selama ini mas Rey sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri. Aku harap mas Rey terima keputusan ini,” tegas Dita.
“Dita kamu juga suka sama aku?” tanya Riko penasaran.
“Baiklah kalau itu buat kamu bahagia, tapi ingat Rik jangan sampai kamu buat Dita menangis. Kamu harus berhadapan denganku, ngerti!!”
“Tenang saja Rey, aku tidak bakalan bikin Dita disakitin sama siapa aja, dan aku akan lindungi dia terus. Yah, kan sayang?” jawab Riko sambil pegan tanganku.
“Makasih yah, Rik. Aku percaya sama kamu.” Aku dan Riko pun resmi menjalin hubungan pada hari itu.

Ternyata aku dan Riko mempunyai cinta yang sama. Walaupun dulu saling membenci, sekarang cinta itu tumbuh dengan sendirinya walau tanpa paksaan cinta pun datang dengan tiba-tiba.


Jumat, 30 Oktober 2015

My memory in the guitar...

Hannaaaaaa… Teriak salah satu teman Hanna yang panik.
“Ada apa?” tanya Hana. Hana adalah seorang murid SMA Kirin di SMA, hari ini sedang melakukan ujian praktek biologi. “hmmmm Su sung ha” tepisnya. Iya ada apa dengan sungha? ‘tanya Hanna penasaran’. Lalu teman hana menjelaskan apa yang terjadi. “Dia terjatuh, entah bagaimana kepala belakangnya terbentur batu, dan sekarang dia tidak sadarkan diri”. Sebuah pipet yang digenggamnya terjatuh dan Hanna berlari, mencoba menemui sungha.
Melihat keramaian di lapangan dan mobil yang ingin membawa Sungha, Hanna mulai menghampirinya, tapi mobil itu segera pergi menuju rumah sakit.
“Sung-Ha” panggilnya dalam hati.
Saat di rumah sakit Ayah dan Ibu Sungha sedang menunggu Sungha. Ketika dokter keluar setelah selesai melakukan operasi penjahitan kepala belakang Sungha. “keadaannya sungguh sangat memperihatinkan, kepala belakangnya terkena benturan terlalu keras dann..” (suasana diam sementara) karena Ibunda Sungha tidak sanggup mendengar perkataan dokter ia memutuskan untuk duduk sambil menahan air mata yang jatuh terlalu banyak.
Apa dok? apa yang akan terjadi dengan Sungha? Tanya Ayah Sungha yang sangat penasaran. “Dia di diagonsis akan menderita cacat” jelasnya dengan lengkap. Ibunda Sungha yang tak kuat mendengar perkataan dokter pingsan dan Ayahnya menangis. “Dokter apakah cacat yang diderita anak saya ini bisa disembuhkan? Tolong dokter, bantu kami? Apa yang harus kami lakukan” tanya ayah Sungha. “banyak yang menderita cacat sejenis ini, saraf di otaknya mungkin ada yang putus, walaupun cacat pada dirinya ringan tapi jalan keluarnya hanyalah terapi fisikis dan terapi yang lainnya” jawab dokter,
“terapi ini harus rutin dilakukan dan berjalan sangat lama” sambungnya.
Tidak jauh dari perbincangan Ayah dan Ibu Sungha, Kim Hanna mendengar perkataan yang dilakukan oleh Ayah dan Ibu sungha pada dokter. “Sunghaaa, mengapa bisa seperti ini?” tanyanya dalam hati.
Hanna mencoba masuk ke ruangan di mana Sungha di rawat, dan duduk di kursi tepat di samping Sungha “Sungha, bagaimana keadaanmu saat ini?” sambil memegang tangan Sungha yang dingin “Sungaha apakah kau mendengarku? Sunghaaaa jawab pertanyaanku, kau jelek seperti ini”
Ceklek… terdengar pintu terbuka
Hanna? ‘sapa Ibunda Sungha yang baru memasuki kamar dimana Sungha dirawat’
“ini sudah larut nak, sebaiknya kau pulang biar Ibu yang menjaganya” terangnya. “Baik bu, saya pamit pulang” jawab Hanna. Hanna bergegas dari kursinya untuk meninggalkan Sungha, belum membuka pintu Ibunda Sungha memberitahu sesuatu pada Hanna. “Mulai besok kau tidak usah repot-repot menjenguk Sungha lagi, karena besok ia harus menjalani terapi, dia akan dipindahkan ke sebuah panti yang menangani terapi untuk Sungha” Mendengar perkataan Ibunda Sungha, Hanna hanya bisa memejamkan mata dan saat itu juga air matanya jatuh. Kejadian ini membuat Hanna terpukul, jika saja ia tidak menyuruh Sungha untuk pulang duluan pasti kejadiannya tidak seperti ini.
Di perjalanan pulang hingga ia naik bus, Hanna hanya bisa menangis merenungkan kejadian hari ini. “Sungha, jika waktu bisa diputar pasti besok aku bisa melihat senyumanmu di sekolah” ungkapnya dalam hati.
Hingga pagi menjelang, saat di sekolah yang biasanya Hanna selalu terlihat ceria, hari ini ia terlihat sangat murung. Saat hendak memasuki kelasnya ia melihat Ayah Sungha sedang berbicara dengan wali kelasnya. Hal ini membuat Hanna ingin tahu apa yang Ayah sampaikan kapada wali kelasnya. Seketika Hanna menunggu, seseorang kakak kelas lewat bersama temannya dan membicarakan tentang Sungha, ternyata mereka mendengar perbincangan Ayah Sungha dengan wali kelasnya. “Kasihan ya Sungha, padahal dia anak yang sangat pintar dan berprestasi di kelasnya” kata salah seorang kakak kelas yang lewat, “yang kasihan tuh orang tuanya, sudah membesarkannya susah payah, eh malah terkena musibah seperti ini, mana Sungha anak satu-satunya” balas temannya.
Hanna yang penasaran, menghampiri dan menanyakan tentang Sungha.” Apakah kalian mendengar banyak tentang perbincangan Ayah Sungha dan Bapak guru?” Memang apa urusannya denganmu? ‘kata salah satu kakak kelasnya’ Derai air mata Hanna sudah tidak bisa dibendungnya, sesekali ia meneteskan air mata. “Aku mohon, (sambil bertekuk lutut) aku mohon beritahu aku. Apakah dia baik-baik saja atau apa. Aku ingin tahu keadaannya” pintanya.
“kenapa kau sangat memaksa dan ingin tahu, memangnya kau ini siapa?” lalu kakak kelas itu meninggalkan Hanna yang belum bangun, air matanya tiada henti-hentinya hingga tambah deras. Melihat hal itu, salah satu kakak kelas berbalik dan memberitahu semua yang didengarnya. “ Sungha akan dibawa ke daerah Itaewon, jika kau ingin tahu alamatnya coba kau tanya kepada wali kelasnya, dia akan mengikuti terapi sampai ia bisa sembuh total, entah seberapa parah sakitnya itu, dia akan mengikuti terapi sampai dia sembuh” jelas kakak kelas.
Dengan langkah lemas Hanna pulang sampai di rumah, pikirannya tak pernah lepas dari Sungha, langkah demi langkah kakinya menapaki anak tangga menuju kamarnya. Saat di kamar Hanna melihat foto dia bersama Sungha, di bingkai yang berwarna biru, warna kesukaan Hanna. Bingkai dan foto ini adalah hadiah ulang tahunnya dari Sungha, di dalam foto itu terlihat Sungha sedang memegang gitarnya bersama Hanna.
“Gitar ini pemberian Ibuku, dia yang paling mengerti kalau aku sangat suka main gitar dan mungkin karna arti namaku adalah ‘Gitar’ ” jelas Sungha. Di balik senar gitar milik Sung Ha tertulis nama Sung Ha Jung, memang gitar ini hadiah sepesial dari ibunya untuk Sungha. “kau tahu tidak?” kata Sungha sambil menunjukan namanya di gitarnya. “Di sini tertulis Sung Ha Jung, Sung berasal dari marga Ayahku, Jung adalah nama belakang Ibuku dan.” Dan Ha? ‘tanya Hanna penasaran’ Ha adalah Hanna, Kim Hanna, jelasnya “hah, aku? kau ini ada-ada saja” balas Hanna dengan senyuman kecilnya. “Walaupun kita kemungkinan bisa berpisah suatu saat nanti, tapi kita pasti akan bertemu kembali, karna Sung, Ha dan Jung akan selalu bersama, kalau tidak ada nama Ha disini namanya akan menjadi Sung Jung, maka dari itu kau jangan pernah pergi kemana-mana, agar namaku tetap Sung Ha Jung”. Hahahah mereka melepas tawa bersama.
“Sungha, ada apa ini? Mengapa bisa seperti ini? Benarkah kau itu? Benarkah kau cacat dan kemungkinan hilang ingatan? Sungha, mungkinkah kau akan lupa denganku?” Hanna tidak bisa menahan air matanya, hingga ia memeluk foto sambil memanggil nama Sungha.
Keesokan harinya, Hanna seperti biasa berangkat sekolah dan saat di sekolah ia meminta alamat kepada wali kelas dimana Sungha mengikuti terapi. “ Apa kau ingin menjenguk Sungha? daerah ini berada di luar kota, kau harus naik bus untuk mencapai ke sana” jelas guru yang memberikan alamat dimana Sungha mengikuti terapi. Tanpa seuntai kata pun Hanna mengucapkan terima kasih dan meninggalkan ruangan guru. Ia berencana ke tempat itu setelah pulang sekolah.
— saat pulang dan bergegas untuk ke halte bis
Pertama kalinya Hanna menggunakan transportasi bis, walaupun begitu ia tetap semangat dan ketika sampai di halte ia turun dan menanyakan alamatnya kepada orang sekitar. Rasa lelah di wajahnya sama sekali tidak terlihat, hingga ia sampai di tempat tujuan. “Saya ingin bertemu dengan pasien yang bernama Sung Ha Jung” tanyanya kepada receptsionist “Dia berada di lantai dua, kau hanya naik satu lantai saja” balas salah seorang receptsionist. Bangunana dimana Sungha menjalani terapi memang bukanlah seperti sebuah panti yang mewah, bangunan ini hanya memiliki jumlah dua lantai, dan di lantai dua dimana Sungha dirawat. Dengan memakai seragam sekolah dan tas punggung yang masih dirangkulnya Hanna mencoba mencari kamar Sungha. Satu pintu terlewatkan ia melihat seseorang yang cacat sedang diterapi, Hanna mencoba membuang pikiran negative tentang Sungha, pintu kedua dan ketiga, hingga sampai pintu yang terakhir ia mulai menghela nafas. “Permisi” ucapnya. “Ya” dari dalam seseorang membalas ucapannya. Tiga langkah yang ia ambil, ternyata berhenti sampai di langkah ke empat, pria yang sedang diterapi oleh dua orang, Hanna mencoba mengambil satu langkah lagi, dan tepat! Sungha sedang duduk sambil diterapi oleh dua orang perawat. “bolehkan saya menunggu sampai terapi ini selesai” tannya Hanna kepada dua orang perawat. “Apakah anda salah satu keluarga dari pasien ini? Tadi pagi Ayah dan Ibunya telah mengantarkan dia ke sini dan nanti malam kemungkian mereka akan mengambilnya kembali ke rumah” ungkap salah satu perawatnya. “ya” jawabnya.
Setelah terapi selesai, Hanna menghampiri Sungha yang masih terjaga sambil tiduran. Bibir Hanna gemetar, matanya mencoba menahan air mata yang tak bisa lagi terbendung, perlahan jatuh. “Sungha, apakah ini kau? Apakah benar ini adalah seseorang yang mempunyai gitar bernama Sung Ha Jung” ucapnya, perlahan kepala Sungha bergeser ke arah suara Hanna, matanya terbuka memperhatikan Hanna dan bibirnya tersenyum, pertanda ia bisa mendengar suara itu.
Dua, Tiga, Empat... 
Baca selanjutnya di posting yang selanjutyaa..

Ditunggu yaa.. #mymemoryintheguitar


Jumat, 11 September 2015

Haii semua pembaca...

Haii Gengs
Salam kenal, Aku Phoebe Abigail umurku !3 tahun ini. Hobbyku adalah menulis cerita. Karena itu aku membuat blog khusus untuk orang yang suka membaca. Disini aku hanya menyediakan cerita Humor dan Romance buat yang mau kategori lain, kasih Comment aja... Buat yang mau lebih banyak tentang aku  atau apa yang aku buat ini langsung add :

#Gmail: phoebeabby05@gmail.com
#Facebook: Phoebeabby

Mau info yang lain bilang aja lewat Facebook.
Makasih gengs...

Love, Remajakini