My memory in the guitar...
Hannaaaaaa…
Teriak salah satu teman Hanna yang panik.
“Ada apa?” tanya Hana. Hana adalah seorang murid SMA Kirin di SMA, hari ini sedang melakukan ujian praktek biologi. “hmmmm Su sung ha” tepisnya. Iya ada apa dengan sungha? ‘tanya Hanna penasaran’. Lalu teman hana menjelaskan apa yang terjadi. “Dia terjatuh, entah bagaimana kepala belakangnya terbentur batu, dan sekarang dia tidak sadarkan diri”. Sebuah pipet yang digenggamnya terjatuh dan Hanna berlari, mencoba menemui sungha.
Melihat keramaian di lapangan dan mobil yang ingin membawa Sungha, Hanna mulai menghampirinya, tapi mobil itu segera pergi menuju rumah sakit.
“Sung-Ha” panggilnya dalam hati.
“Ada apa?” tanya Hana. Hana adalah seorang murid SMA Kirin di SMA, hari ini sedang melakukan ujian praktek biologi. “hmmmm Su sung ha” tepisnya. Iya ada apa dengan sungha? ‘tanya Hanna penasaran’. Lalu teman hana menjelaskan apa yang terjadi. “Dia terjatuh, entah bagaimana kepala belakangnya terbentur batu, dan sekarang dia tidak sadarkan diri”. Sebuah pipet yang digenggamnya terjatuh dan Hanna berlari, mencoba menemui sungha.
Melihat keramaian di lapangan dan mobil yang ingin membawa Sungha, Hanna mulai menghampirinya, tapi mobil itu segera pergi menuju rumah sakit.
“Sung-Ha” panggilnya dalam hati.
Saat di
rumah sakit Ayah dan Ibu Sungha sedang menunggu Sungha. Ketika dokter keluar
setelah selesai melakukan operasi penjahitan kepala belakang Sungha.
“keadaannya sungguh sangat memperihatinkan, kepala belakangnya terkena benturan
terlalu keras dann..” (suasana diam sementara) karena Ibunda Sungha tidak
sanggup mendengar perkataan dokter ia memutuskan untuk duduk sambil menahan air
mata yang jatuh terlalu banyak.
Apa dok? apa yang akan terjadi dengan Sungha? Tanya Ayah Sungha yang sangat penasaran. “Dia di diagonsis akan menderita cacat” jelasnya dengan lengkap. Ibunda Sungha yang tak kuat mendengar perkataan dokter pingsan dan Ayahnya menangis. “Dokter apakah cacat yang diderita anak saya ini bisa disembuhkan? Tolong dokter, bantu kami? Apa yang harus kami lakukan” tanya ayah Sungha. “banyak yang menderita cacat sejenis ini, saraf di otaknya mungkin ada yang putus, walaupun cacat pada dirinya ringan tapi jalan keluarnya hanyalah terapi fisikis dan terapi yang lainnya” jawab dokter,
“terapi ini harus rutin dilakukan dan berjalan sangat lama” sambungnya.
Apa dok? apa yang akan terjadi dengan Sungha? Tanya Ayah Sungha yang sangat penasaran. “Dia di diagonsis akan menderita cacat” jelasnya dengan lengkap. Ibunda Sungha yang tak kuat mendengar perkataan dokter pingsan dan Ayahnya menangis. “Dokter apakah cacat yang diderita anak saya ini bisa disembuhkan? Tolong dokter, bantu kami? Apa yang harus kami lakukan” tanya ayah Sungha. “banyak yang menderita cacat sejenis ini, saraf di otaknya mungkin ada yang putus, walaupun cacat pada dirinya ringan tapi jalan keluarnya hanyalah terapi fisikis dan terapi yang lainnya” jawab dokter,
“terapi ini harus rutin dilakukan dan berjalan sangat lama” sambungnya.
Tidak
jauh dari perbincangan Ayah dan Ibu Sungha, Kim Hanna mendengar perkataan yang
dilakukan oleh Ayah dan Ibu sungha pada dokter. “Sunghaaa, mengapa bisa seperti
ini?” tanyanya dalam hati.
Hanna mencoba masuk ke ruangan di mana Sungha di rawat, dan duduk di kursi tepat di samping Sungha “Sungha, bagaimana keadaanmu saat ini?” sambil memegang tangan Sungha yang dingin “Sungaha apakah kau mendengarku? Sunghaaaa jawab pertanyaanku, kau jelek seperti ini”
Ceklek… terdengar pintu terbuka
Hanna? ‘sapa Ibunda Sungha yang baru memasuki kamar dimana Sungha dirawat’
“ini sudah larut nak, sebaiknya kau pulang biar Ibu yang menjaganya” terangnya. “Baik bu, saya pamit pulang” jawab Hanna. Hanna bergegas dari kursinya untuk meninggalkan Sungha, belum membuka pintu Ibunda Sungha memberitahu sesuatu pada Hanna. “Mulai besok kau tidak usah repot-repot menjenguk Sungha lagi, karena besok ia harus menjalani terapi, dia akan dipindahkan ke sebuah panti yang menangani terapi untuk Sungha” Mendengar perkataan Ibunda Sungha, Hanna hanya bisa memejamkan mata dan saat itu juga air matanya jatuh. Kejadian ini membuat Hanna terpukul, jika saja ia tidak menyuruh Sungha untuk pulang duluan pasti kejadiannya tidak seperti ini.
Hanna mencoba masuk ke ruangan di mana Sungha di rawat, dan duduk di kursi tepat di samping Sungha “Sungha, bagaimana keadaanmu saat ini?” sambil memegang tangan Sungha yang dingin “Sungaha apakah kau mendengarku? Sunghaaaa jawab pertanyaanku, kau jelek seperti ini”
Ceklek… terdengar pintu terbuka
Hanna? ‘sapa Ibunda Sungha yang baru memasuki kamar dimana Sungha dirawat’
“ini sudah larut nak, sebaiknya kau pulang biar Ibu yang menjaganya” terangnya. “Baik bu, saya pamit pulang” jawab Hanna. Hanna bergegas dari kursinya untuk meninggalkan Sungha, belum membuka pintu Ibunda Sungha memberitahu sesuatu pada Hanna. “Mulai besok kau tidak usah repot-repot menjenguk Sungha lagi, karena besok ia harus menjalani terapi, dia akan dipindahkan ke sebuah panti yang menangani terapi untuk Sungha” Mendengar perkataan Ibunda Sungha, Hanna hanya bisa memejamkan mata dan saat itu juga air matanya jatuh. Kejadian ini membuat Hanna terpukul, jika saja ia tidak menyuruh Sungha untuk pulang duluan pasti kejadiannya tidak seperti ini.
Di
perjalanan pulang hingga ia naik bus, Hanna hanya bisa menangis merenungkan
kejadian hari ini. “Sungha, jika waktu bisa diputar pasti besok aku bisa
melihat senyumanmu di sekolah” ungkapnya dalam hati.
Hingga pagi menjelang, saat di sekolah yang biasanya Hanna selalu terlihat ceria, hari ini ia terlihat sangat murung. Saat hendak memasuki kelasnya ia melihat Ayah Sungha sedang berbicara dengan wali kelasnya. Hal ini membuat Hanna ingin tahu apa yang Ayah sampaikan kapada wali kelasnya. Seketika Hanna menunggu, seseorang kakak kelas lewat bersama temannya dan membicarakan tentang Sungha, ternyata mereka mendengar perbincangan Ayah Sungha dengan wali kelasnya. “Kasihan ya Sungha, padahal dia anak yang sangat pintar dan berprestasi di kelasnya” kata salah seorang kakak kelas yang lewat, “yang kasihan tuh orang tuanya, sudah membesarkannya susah payah, eh malah terkena musibah seperti ini, mana Sungha anak satu-satunya” balas temannya.
Hingga pagi menjelang, saat di sekolah yang biasanya Hanna selalu terlihat ceria, hari ini ia terlihat sangat murung. Saat hendak memasuki kelasnya ia melihat Ayah Sungha sedang berbicara dengan wali kelasnya. Hal ini membuat Hanna ingin tahu apa yang Ayah sampaikan kapada wali kelasnya. Seketika Hanna menunggu, seseorang kakak kelas lewat bersama temannya dan membicarakan tentang Sungha, ternyata mereka mendengar perbincangan Ayah Sungha dengan wali kelasnya. “Kasihan ya Sungha, padahal dia anak yang sangat pintar dan berprestasi di kelasnya” kata salah seorang kakak kelas yang lewat, “yang kasihan tuh orang tuanya, sudah membesarkannya susah payah, eh malah terkena musibah seperti ini, mana Sungha anak satu-satunya” balas temannya.
Hanna
yang penasaran, menghampiri dan menanyakan tentang Sungha.” Apakah kalian
mendengar banyak tentang perbincangan Ayah Sungha dan Bapak guru?” Memang apa
urusannya denganmu? ‘kata salah satu kakak kelasnya’ Derai air mata Hanna sudah
tidak bisa dibendungnya, sesekali ia meneteskan air mata. “Aku mohon, (sambil
bertekuk lutut) aku mohon beritahu aku. Apakah dia baik-baik saja atau apa. Aku
ingin tahu keadaannya” pintanya.
“kenapa kau sangat memaksa dan ingin tahu, memangnya kau ini siapa?” lalu kakak kelas itu meninggalkan Hanna yang belum bangun, air matanya tiada henti-hentinya hingga tambah deras. Melihat hal itu, salah satu kakak kelas berbalik dan memberitahu semua yang didengarnya. “ Sungha akan dibawa ke daerah Itaewon, jika kau ingin tahu alamatnya coba kau tanya kepada wali kelasnya, dia akan mengikuti terapi sampai ia bisa sembuh total, entah seberapa parah sakitnya itu, dia akan mengikuti terapi sampai dia sembuh” jelas kakak kelas.
“kenapa kau sangat memaksa dan ingin tahu, memangnya kau ini siapa?” lalu kakak kelas itu meninggalkan Hanna yang belum bangun, air matanya tiada henti-hentinya hingga tambah deras. Melihat hal itu, salah satu kakak kelas berbalik dan memberitahu semua yang didengarnya. “ Sungha akan dibawa ke daerah Itaewon, jika kau ingin tahu alamatnya coba kau tanya kepada wali kelasnya, dia akan mengikuti terapi sampai ia bisa sembuh total, entah seberapa parah sakitnya itu, dia akan mengikuti terapi sampai dia sembuh” jelas kakak kelas.
Dengan langkah lemas Hanna pulang sampai di
rumah, pikirannya tak pernah lepas dari Sungha, langkah demi langkah kakinya
menapaki anak tangga menuju kamarnya. Saat di kamar Hanna melihat foto dia
bersama Sungha, di bingkai yang berwarna biru, warna kesukaan Hanna. Bingkai
dan foto ini adalah hadiah ulang tahunnya dari Sungha, di dalam foto itu
terlihat Sungha sedang memegang gitarnya bersama Hanna.
“Gitar ini pemberian Ibuku, dia yang paling
mengerti kalau aku sangat suka main gitar dan mungkin karna arti namaku adalah
‘Gitar’ ” jelas Sungha. Di balik senar gitar milik Sung Ha tertulis nama Sung
Ha Jung, memang gitar ini hadiah sepesial dari ibunya untuk Sungha. “kau tahu
tidak?” kata Sungha sambil menunjukan namanya di gitarnya. “Di sini tertulis
Sung Ha Jung, Sung berasal dari marga Ayahku, Jung adalah nama belakang Ibuku
dan.” Dan Ha? ‘tanya Hanna penasaran’ Ha adalah Hanna, Kim Hanna, jelasnya
“hah, aku? kau ini ada-ada saja” balas Hanna dengan senyuman kecilnya.
“Walaupun kita kemungkinan bisa berpisah suatu saat nanti, tapi kita pasti akan
bertemu kembali, karna Sung, Ha dan Jung akan selalu bersama, kalau tidak ada
nama Ha disini namanya akan menjadi Sung Jung, maka dari itu kau jangan pernah
pergi kemana-mana, agar namaku tetap Sung Ha Jung”. Hahahah mereka melepas tawa
bersama.
“Sungha, ada apa ini? Mengapa bisa seperti
ini? Benarkah kau itu? Benarkah kau cacat dan kemungkinan hilang ingatan?
Sungha, mungkinkah kau akan lupa denganku?” Hanna tidak bisa menahan air
matanya, hingga ia memeluk foto sambil memanggil nama Sungha.
Keesokan harinya, Hanna seperti biasa
berangkat sekolah dan saat di sekolah ia meminta alamat kepada wali kelas
dimana Sungha mengikuti terapi. “ Apa kau ingin menjenguk Sungha? daerah ini
berada di luar kota, kau harus naik bus untuk mencapai ke sana” jelas guru yang
memberikan alamat dimana Sungha mengikuti terapi. Tanpa seuntai kata pun Hanna
mengucapkan terima kasih dan meninggalkan ruangan guru. Ia berencana ke tempat
itu setelah pulang sekolah.
— saat
pulang dan bergegas untuk ke halte bis
Pertama kalinya Hanna menggunakan transportasi bis, walaupun begitu ia tetap semangat dan ketika sampai di halte ia turun dan menanyakan alamatnya kepada orang sekitar. Rasa lelah di wajahnya sama sekali tidak terlihat, hingga ia sampai di tempat tujuan. “Saya ingin bertemu dengan pasien yang bernama Sung Ha Jung” tanyanya kepada receptsionist “Dia berada di lantai dua, kau hanya naik satu lantai saja” balas salah seorang receptsionist. Bangunana dimana Sungha menjalani terapi memang bukanlah seperti sebuah panti yang mewah, bangunan ini hanya memiliki jumlah dua lantai, dan di lantai dua dimana Sungha dirawat. Dengan memakai seragam sekolah dan tas punggung yang masih dirangkulnya Hanna mencoba mencari kamar Sungha. Satu pintu terlewatkan ia melihat seseorang yang cacat sedang diterapi, Hanna mencoba membuang pikiran negative tentang Sungha, pintu kedua dan ketiga, hingga sampai pintu yang terakhir ia mulai menghela nafas. “Permisi” ucapnya. “Ya” dari dalam seseorang membalas ucapannya. Tiga langkah yang ia ambil, ternyata berhenti sampai di langkah ke empat, pria yang sedang diterapi oleh dua orang, Hanna mencoba mengambil satu langkah lagi, dan tepat! Sungha sedang duduk sambil diterapi oleh dua orang perawat. “bolehkan saya menunggu sampai terapi ini selesai” tannya Hanna kepada dua orang perawat. “Apakah anda salah satu keluarga dari pasien ini? Tadi pagi Ayah dan Ibunya telah mengantarkan dia ke sini dan nanti malam kemungkian mereka akan mengambilnya kembali ke rumah” ungkap salah satu perawatnya. “ya” jawabnya.
Pertama kalinya Hanna menggunakan transportasi bis, walaupun begitu ia tetap semangat dan ketika sampai di halte ia turun dan menanyakan alamatnya kepada orang sekitar. Rasa lelah di wajahnya sama sekali tidak terlihat, hingga ia sampai di tempat tujuan. “Saya ingin bertemu dengan pasien yang bernama Sung Ha Jung” tanyanya kepada receptsionist “Dia berada di lantai dua, kau hanya naik satu lantai saja” balas salah seorang receptsionist. Bangunana dimana Sungha menjalani terapi memang bukanlah seperti sebuah panti yang mewah, bangunan ini hanya memiliki jumlah dua lantai, dan di lantai dua dimana Sungha dirawat. Dengan memakai seragam sekolah dan tas punggung yang masih dirangkulnya Hanna mencoba mencari kamar Sungha. Satu pintu terlewatkan ia melihat seseorang yang cacat sedang diterapi, Hanna mencoba membuang pikiran negative tentang Sungha, pintu kedua dan ketiga, hingga sampai pintu yang terakhir ia mulai menghela nafas. “Permisi” ucapnya. “Ya” dari dalam seseorang membalas ucapannya. Tiga langkah yang ia ambil, ternyata berhenti sampai di langkah ke empat, pria yang sedang diterapi oleh dua orang, Hanna mencoba mengambil satu langkah lagi, dan tepat! Sungha sedang duduk sambil diterapi oleh dua orang perawat. “bolehkan saya menunggu sampai terapi ini selesai” tannya Hanna kepada dua orang perawat. “Apakah anda salah satu keluarga dari pasien ini? Tadi pagi Ayah dan Ibunya telah mengantarkan dia ke sini dan nanti malam kemungkian mereka akan mengambilnya kembali ke rumah” ungkap salah satu perawatnya. “ya” jawabnya.
Setelah terapi selesai, Hanna menghampiri
Sungha yang masih terjaga sambil tiduran. Bibir Hanna gemetar, matanya mencoba
menahan air mata yang tak bisa lagi terbendung, perlahan jatuh. “Sungha, apakah
ini kau? Apakah benar ini adalah seseorang yang mempunyai gitar bernama Sung Ha
Jung” ucapnya, perlahan kepala Sungha bergeser ke arah suara Hanna, matanya
terbuka memperhatikan Hanna dan bibirnya tersenyum, pertanda ia bisa mendengar
suara itu.
Dua, Tiga, Empat...
Baca selanjutnya di posting yang selanjutyaa..
Ditunggu yaa.. #mymemoryintheguitar