Namaku Dita, aku adalah seorang gadis yang
sederhana, ramah, dan pintar. Rambut panjangku sering dikuncir kuda dan memakai
kacamata. Aku bersekolah di SMA HARAPAN BANGSA, yaitu salah satu sekolah
terfavorit dan termahal. Aku berasal dari keluarga terpandang, tapi aku lebih
memilih merahasiakannya, karena mendapatkan beasiswa dara sekolahku dulu.
“Dit,
kamu tahu tidak?” kata Maya sahabatku.
“Tahu kenapa?” jawabku.
“Kita bakal dapat teman baru loh, ganteng lagi,” Maya bersemangat bercerita. Aku langsung tertawa mendengar berita tersebut.
“Yah, baguslah.”
“Aku serius, katanya siswa baru tersebut ganteng banget.” Kata Maya. Aku tidak pedulikan hal itu, langsung meninggalkan Maya yang masih asyik dengan ceritanya.
“hii, dasar kamu yah, tidak normal bangat jadi cewek, mestinya seneng dong,” geram Maya sambil mengikuti dari belakang.
“Tahu kenapa?” jawabku.
“Kita bakal dapat teman baru loh, ganteng lagi,” Maya bersemangat bercerita. Aku langsung tertawa mendengar berita tersebut.
“Yah, baguslah.”
“Aku serius, katanya siswa baru tersebut ganteng banget.” Kata Maya. Aku tidak pedulikan hal itu, langsung meninggalkan Maya yang masih asyik dengan ceritanya.
“hii, dasar kamu yah, tidak normal bangat jadi cewek, mestinya seneng dong,” geram Maya sambil mengikuti dari belakang.
Saat berada di kantin aku tidak sengaja
menumpahkan es krimku, dan mengenai baju seseorang. Aku tak menyangka kenapa
aku seceroboh itu, tapi alangkah terkejutnya aku melihat lelaki di depan sangat
menarik dan tampan sekali.
“Huppp..
ma..maaf yah, aku tidak sengaja,” akupun tergagap.
“Kamu punya mata tidak. Oh, yah aku lupa kamu kan pakai kacamata, buta kamu yah?” geram lelaki tersebut.
“Maaf, aku kan sudah bilang aku tidak sengaja,” dengan menundukkan kepalaku.
“Kamu punya mata tidak. Oh, yah aku lupa kamu kan pakai kacamata, buta kamu yah?” geram lelaki tersebut.
“Maaf, aku kan sudah bilang aku tidak sengaja,” dengan menundukkan kepalaku.
Lelaki
itu langsung pergi meninggalkanku dengan tatapan sinis. Aku tak menyangkah
lelaki itu bisa sekasar itu. Aku pun dikejutkan dengan bel yang berbunyi
tandanya masuk kelas, siswa-siswa SMA HARAPAN hening sejenak. Di kelas aku
menceritakan kejadian di kantin, Maya pun tertawa mendengarku.
“Jadi, cowok itu marah tidak sama kamu?” tanya Maya padaku.
“Jadi, cowok itu marah tidak sama kamu?” tanya Maya padaku.
Tak
sempat ku menjawab tiba-tiba ada seorang siswa lelaki masuk di kelas kami.
Semua mata tertuju pada lelaki tersebut, bahkan ada yang menelan air ludah.
Ternyata lelaki yang marah-marah di kantin tadi adalah siswa baru.
“Assalamualaikum..” salam lelaki tersebut.
“Waalaikum salam..” jawab kami serempak. Bu Ani pun menyapa lelaki itu, dan bilang kalau dia adalah teman baru kami.
“Nah.. ini yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga, cakep pisan uyy.” Maya terpukau.
“Kenalin teman-teman nama saya Riko,” dengan lantang Riko memperkenalkan dirinya.
“Riko, kamu duduk di sebelah Rey yah!” kata Bu Ani sambil menunjuk tempat dekat Rey.
“Ya bu, makasih,” jawab Riko. Pelajaran pun di mulai seperti biasanya.
“Assalamualaikum..” salam lelaki tersebut.
“Waalaikum salam..” jawab kami serempak. Bu Ani pun menyapa lelaki itu, dan bilang kalau dia adalah teman baru kami.
“Nah.. ini yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga, cakep pisan uyy.” Maya terpukau.
“Kenalin teman-teman nama saya Riko,” dengan lantang Riko memperkenalkan dirinya.
“Riko, kamu duduk di sebelah Rey yah!” kata Bu Ani sambil menunjuk tempat dekat Rey.
“Ya bu, makasih,” jawab Riko. Pelajaran pun di mulai seperti biasanya.
Keesokkan
harinya, aku pergi ke sekolah berjalan kaki dari tempat sopirku mengantarkanku,
dengan santainya. Tiba-tiba, “berrrttt!!”
Aku tersiram air dari mobil di sampingku. Aku pun langsung menghampiri mobil yang sengaja berhenti dan menungguku sampai di dekatnya. Dengan geram aku langsung mengedor pintu mobil orang itu, tak lain yaitu Riko.
Aku tersiram air dari mobil di sampingku. Aku pun langsung menghampiri mobil yang sengaja berhenti dan menungguku sampai di dekatnya. Dengan geram aku langsung mengedor pintu mobil orang itu, tak lain yaitu Riko.
“hey
rusak tahu mobil gue digedor-gedor,” muka Riko merah padam.
“Lo tuh yah gak punya perasaan, gue tahu lo hebat dan punya segalanya, tapi bisa sopan dikit kenapa.”
“Masalah buat lo, suka-suka gue dong,” Riko cuekin Dita. Dengan kencangnya mobilnya melaju.
Aku pun merasa kesal dengan Riko yang sombong dan angkuh. “Orang kaya emang gitu,” sambil berjalan lagi.
“Lo tuh yah gak punya perasaan, gue tahu lo hebat dan punya segalanya, tapi bisa sopan dikit kenapa.”
“Masalah buat lo, suka-suka gue dong,” Riko cuekin Dita. Dengan kencangnya mobilnya melaju.
Aku pun merasa kesal dengan Riko yang sombong dan angkuh. “Orang kaya emang gitu,” sambil berjalan lagi.
Sampai
di kelas aku dikejutkan dengan tatapan sinis oleh teman sekelasku yang dari
dulu iri dan benci padaku. Tapi aku tak peduli, aku langsung mendekati Rey yang
sejak tadi menungguku.
“Kok, hari ini datangnya agak terlambat Neng?” kata Rey kepadaku.
“Iya Mas. Tadi Ibu menyuruh aku menemani adikku dulu,” jawabku membohongi Rey. Mendengar percakapan itu, Riko yang berada di sebelah Rey agak risih.
“Rey, kamu pacaran sama cewek ini, kayaknya pertanyaanlah lo gitu amat,” tanya Riko yang dari tadi memperhatikan kami.
“Hehehe… maunya sih, tapi si Ditanya gak merespon terus,” jawab Rey malu-malu.
“Yang bener si Mas? Jadi GR,” kataku dengan kelihatan santai.
“Widih.. selerahmu parah amat. Hahaha..” ngeledek Rey.
“Memang kenapa, Rik. Dita itu selain pintar, dia juga baik.” Rey memujiku. Aku tak menyangka dengan ucapan Rey, aku tak percaya Rey sangat memperhatikanku.
“Maaf yah, Mas. aku permisi dulu,” sambungku.
“Okey, silahkan Neng.”
Di kelas Riko melamun, pikir dalam hatinya, “Masa iya Rey kagum dengan sosok cewek jelek itu.”
“Kok, hari ini datangnya agak terlambat Neng?” kata Rey kepadaku.
“Iya Mas. Tadi Ibu menyuruh aku menemani adikku dulu,” jawabku membohongi Rey. Mendengar percakapan itu, Riko yang berada di sebelah Rey agak risih.
“Rey, kamu pacaran sama cewek ini, kayaknya pertanyaanlah lo gitu amat,” tanya Riko yang dari tadi memperhatikan kami.
“Hehehe… maunya sih, tapi si Ditanya gak merespon terus,” jawab Rey malu-malu.
“Yang bener si Mas? Jadi GR,” kataku dengan kelihatan santai.
“Widih.. selerahmu parah amat. Hahaha..” ngeledek Rey.
“Memang kenapa, Rik. Dita itu selain pintar, dia juga baik.” Rey memujiku. Aku tak menyangka dengan ucapan Rey, aku tak percaya Rey sangat memperhatikanku.
“Maaf yah, Mas. aku permisi dulu,” sambungku.
“Okey, silahkan Neng.”
Di kelas Riko melamun, pikir dalam hatinya, “Masa iya Rey kagum dengan sosok cewek jelek itu.”
Tiba-tiba
bahu Riko dipegang cewek cantik, seksi dan kelihatannya sangat agresif.
“Hai, lagi ngelamunin apaan Rik?” sambil pegang-pegang Riko.
“Hemm, gak mikirin apa-apa kok. Aku hanya mendengar suara kamu yang merdu sekali, Put.” kata Riko dengan gombalnya.
Putri yang merayu Riko pun senang dengan ucapan itu. “Ke kantin yuk!” ajaknya pada Riko.
“Oke, dengan satu syarat kamu mau jadi pacarku!” tantang Riko.
“Oke! Siapa takut.” Jawab Putri senang.
“Hai, lagi ngelamunin apaan Rik?” sambil pegang-pegang Riko.
“Hemm, gak mikirin apa-apa kok. Aku hanya mendengar suara kamu yang merdu sekali, Put.” kata Riko dengan gombalnya.
Putri yang merayu Riko pun senang dengan ucapan itu. “Ke kantin yuk!” ajaknya pada Riko.
“Oke, dengan satu syarat kamu mau jadi pacarku!” tantang Riko.
“Oke! Siapa takut.” Jawab Putri senang.
Akhirnya
ia bisa mengajak Riko pacaran, setelah beberapa kali ia ditolak Rey. Kemudian
keduanya langsung menuju kantin. Riko yang melihat Rey dan aku yang kebetulan
sedang makan. Ia pun langsung menggenggam tangan Putri, dan menuju ke meja Rey
dan Dita.
“Mesra banget kalian, pacaran yah?” tanya Rey.
“Yah dong, kenalin nih pacar baru gue. Cantik kan?” jawab Riko yang kelihatan minta perhatian dariku
Aku yang sejak tadi makan, cuek dan tidak memperhatikaan omongan dari Riko. Aku pun mengajak Rey kembali ke kelas.
“Mesra banget kalian, pacaran yah?” tanya Rey.
“Yah dong, kenalin nih pacar baru gue. Cantik kan?” jawab Riko yang kelihatan minta perhatian dariku
Aku yang sejak tadi makan, cuek dan tidak memperhatikaan omongan dari Riko. Aku pun mengajak Rey kembali ke kelas.
Pulang
sekolah Riko langsung menuju kamarnya, ia selalu terbayang-bayang wajahku yang
ayu walau pakai kacamata, tapi kelihatan aku indah sekali. Ia pun heran, kok
bukan Putri yang ada di pikirannya, malah diriku. Asyik dalam lamunannya, Riko
dikagetkan dengan kedatangan tamu.
“Den Riko, ini ada pesanan kue untuk nyonya.” kata bi Ida.
“Yah Bi, tunggu sebentar.” Keluar dari kamarnya.
“Mana kuenya Bik?” tanya Riko pada bi Ida.
“Itu di depan Den,” tunjuk bik Ida.
“Den Riko, ini ada pesanan kue untuk nyonya.” kata bi Ida.
“Yah Bi, tunggu sebentar.” Keluar dari kamarnya.
“Mana kuenya Bik?” tanya Riko pada bi Ida.
“Itu di depan Den,” tunjuk bik Ida.
Riko
pun keluar, betapa kagetnya ia ternyata yang menghantarkan kue itu cewek cantik
dengan penampilan menarik. Ia tak sadar bahwa itu aku.
“Kamu. Ini rumahnya bu Minah kan?” tanyaku heran.
“Iyah bener, aku anaknya. Kok wajah kamu mirip..” tak sempat Riko bicara. Dia baru sadar ini aku, cewek yang ia jahilin di sekolahnya.
“Kenapa, tidak usah heran yah biasa saja.” Jawab Riko pura-pura jutek.
“Kamu. Ini rumahnya bu Minah kan?” tanyaku heran.
“Iyah bener, aku anaknya. Kok wajah kamu mirip..” tak sempat Riko bicara. Dia baru sadar ini aku, cewek yang ia jahilin di sekolahnya.
“Kenapa, tidak usah heran yah biasa saja.” Jawab Riko pura-pura jutek.
Riko diam-diam memperhatikan penampilanku
yang memakai rok mini dan rambutku yang sering dikuncir sekarang diurai dan
kelihatan sempurna. “Kok, beda banget yah di sekolah dengan kesehariannya, ternyata
Dita sangat cantik. Hupp!! Ngapain gue pikirin kayak gitu. Bodoh amat.” pikir
Riko dalam hatinya.
“Ya
udah, nih pesanan tante Nila, bilang sama beliau mungkin ini terakhir kami
kirim, soalnya kami mau pindah.” kata ku dengan santai.
“Apa, mau pindah? Pindah ke mana, sekolah kamu juga pindah?” tanya Riko tiba-tiba pedulikanku.
“Yah, Rik. Aku mau pindah juga. Kami sekeluarga pindah ke Lampung.” jawabku dengan lantang.
Riko pun merasa kasihan denganku. “Tapi, bagaimana dengan sekolahmu Dit? Kamu kan sekolah di sini dengan beasiswamu, kan sayang bila ditinggalkan,” kata Riko yang nampak takut kehilanganku.
“Hahaha… kamu peduli sekali sama aku? Makasih yah Rik!” kataku sambil tersenyum pada Riko.
“Jangan kepedean yah, aku hanya menyarankan, kamu mau pindah juga terserah. Memangnya aku peduli,” kata Riko yang tiba-tiba berubah kepadaku.
“Ya sudah, aku mau pulang dulu yah, sekali lagi thanks yah!” kataku dan kemudian pergi meninggalkan riko yang masih nampak kebingungan.
“Apa, mau pindah? Pindah ke mana, sekolah kamu juga pindah?” tanya Riko tiba-tiba pedulikanku.
“Yah, Rik. Aku mau pindah juga. Kami sekeluarga pindah ke Lampung.” jawabku dengan lantang.
Riko pun merasa kasihan denganku. “Tapi, bagaimana dengan sekolahmu Dit? Kamu kan sekolah di sini dengan beasiswamu, kan sayang bila ditinggalkan,” kata Riko yang nampak takut kehilanganku.
“Hahaha… kamu peduli sekali sama aku? Makasih yah Rik!” kataku sambil tersenyum pada Riko.
“Jangan kepedean yah, aku hanya menyarankan, kamu mau pindah juga terserah. Memangnya aku peduli,” kata Riko yang tiba-tiba berubah kepadaku.
“Ya sudah, aku mau pulang dulu yah, sekali lagi thanks yah!” kataku dan kemudian pergi meninggalkan riko yang masih nampak kebingungan.
Keesokkan harinya, pagi-pagi Riko sudah
datang ke sekolah, Ia langsung mencariku. Akan tetapi, ia tidak menemukanku.
Dari kejahuan, Riko melihat seseorang yang tak lain yaitu aku sendiri.
Penampilanku sangat berbeda dari biasanya. Aku sengaja tidak memakai seragam
sekolah, rambutku yang panjang kubiarkan terurai, bahkan aku juga tidak memakai
kacamata yang biasanya kupakai di sekolah. Sangat sempurna sekali. Riko yang
melihat pandangan itu pun tak berkedip. Ia langsung mendekatiku.
“Hmmm…
Dita. Kamu beda sekali hari ini?” katanya memujiku.
“dan kenapa tidak memakai baju seragam sekolah, kamu pikir di sini tempat kondangan!” canda Riko kepadaku.
“Apa urusan sama kamu?” jawabku dengan wajah tersenyum lebar. Belum sempat Riko berbicara, aku langsung menghentikan pembicaraannya.
“Oh ya.. Rik, aku permisi dulu yah mau ke kantor dulu.”
“dan kenapa tidak memakai baju seragam sekolah, kamu pikir di sini tempat kondangan!” canda Riko kepadaku.
“Apa urusan sama kamu?” jawabku dengan wajah tersenyum lebar. Belum sempat Riko berbicara, aku langsung menghentikan pembicaraannya.
“Oh ya.. Rik, aku permisi dulu yah mau ke kantor dulu.”
Di
kantor bu Rini menanyakanku dan menyarankan aku untuk tidak jadi pindah.
“Apa sudah dipikirkan matang-matang Dit?” tanya bu Rini selaku kepala sekolahku.
“Ya, Bu. Orangtuaku pindah kerjaan di Lampung.”
“Memangnya apa kerjaan Ayah-Ibu kamu?” tanya bu Rini.
“Mama buka restoran baru dan papa memimpin proyek baru di sana,” tegasku.
“Oh, mama dan papa kamu hebat yah, Dit. Pantas saja kamu pintar.” puji bu Rini.
“Ibu bisa saja, memujinya terlalu tinggi.”
“Apa sudah dipikirkan matang-matang Dit?” tanya bu Rini selaku kepala sekolahku.
“Ya, Bu. Orangtuaku pindah kerjaan di Lampung.”
“Memangnya apa kerjaan Ayah-Ibu kamu?” tanya bu Rini.
“Mama buka restoran baru dan papa memimpin proyek baru di sana,” tegasku.
“Oh, mama dan papa kamu hebat yah, Dit. Pantas saja kamu pintar.” puji bu Rini.
“Ibu bisa saja, memujinya terlalu tinggi.”
Kemudian aku langsung ke kelas, aku ingin
pamitan dengan teman-teman. Sampai depan kelas, aku dikagetkan dengan ucapan di
papan tulis yang menyatakan “POKOKNYA DITA TIDAK BOLEH PINDAH, KALAU SAMPAI
PINDAH AKU JUGA IKUT PINDAH”
Tak ada
satu pun yang mengakui tulisan itu.
“Mas Rey, yang menuliskan itu ya?” tanyaku penasaran.
“Tidak, Dit. Aku memang tidak setuju kamu pindah. Tapi itu sudah keputusanmu. Aku dukung sepenuhnya.”
“Mas Rey, yang menuliskan itu ya?” tanyaku penasaran.
“Tidak, Dit. Aku memang tidak setuju kamu pindah. Tapi itu sudah keputusanmu. Aku dukung sepenuhnya.”
Tiba-tiba
Riko datang dan mengatakan bahwa dialah yang menuliskan kata-kata itu. Semua
siswa terkejut, tak terkecuali Putri.
“Sialan tu cewek udah rebut Rey, sekarang dia ngambil perhatian pacar gue, dasar cewek kampret gak tahu diri,” geram Putri dalam hati.
“Riko, kok kamu seperti ini. Ini bukan Riko yang ku kenal. Kamu kan tidak suka sama aku, sekarang kamu malah tidak setuju aku pindah,” tanyaku bingung.
“Pokoknya aku tidak mau kamu pindah, karena aku cinta sama kamu. Ngerti!!” tegas Riko.
Aku benar-benar tak menyangka, bahwa Riko mengungkapkan perasaannya. Rey yang mendengar pun langsung marah dan menonjok wajah Riko. Tapi pertengkaran itu terhenti ketika bu Ani masuk kelas.
“Sialan tu cewek udah rebut Rey, sekarang dia ngambil perhatian pacar gue, dasar cewek kampret gak tahu diri,” geram Putri dalam hati.
“Riko, kok kamu seperti ini. Ini bukan Riko yang ku kenal. Kamu kan tidak suka sama aku, sekarang kamu malah tidak setuju aku pindah,” tanyaku bingung.
“Pokoknya aku tidak mau kamu pindah, karena aku cinta sama kamu. Ngerti!!” tegas Riko.
Aku benar-benar tak menyangka, bahwa Riko mengungkapkan perasaannya. Rey yang mendengar pun langsung marah dan menonjok wajah Riko. Tapi pertengkaran itu terhenti ketika bu Ani masuk kelas.
Pulang
sekolah aku langsung menuju rumah, aku terkejut dengan kedatangan Riko yang
sejak tadi ada di teras rumahn.
“Riko, kok kamu bisa tahu rumahku, terus ngapain ke sini?” tanyaku.
“Aku kemarin ngikutin kamu pulang. Dit, kuharap kamu jangan tinggalin aku. Aku janji tidak bakal nyakitin kamu, dan aku…” belum sempat bicara Mama keluar.
“Ada tamu yah? Kok gak diajak masuk temannya.”
“Oh yah, ini teman sekolah aku Ma,” kata Dita malu-malu.
“Teman apa teman, yah sudah Mama tinggal dulu.” Aku dan Riko bertatap muka sambil tersenyum.
Pukul 04.30 WIB Riko pun pulang dari rumahku, ia lega ternyata aku tidak jadi pindah dikarenakan Papa dapat proyek baru lagi di Jakarta. Sampai di rumah Riko berencana untuk menembakku di sekolah besok pagi.
“Riko, kok kamu bisa tahu rumahku, terus ngapain ke sini?” tanyaku.
“Aku kemarin ngikutin kamu pulang. Dit, kuharap kamu jangan tinggalin aku. Aku janji tidak bakal nyakitin kamu, dan aku…” belum sempat bicara Mama keluar.
“Ada tamu yah? Kok gak diajak masuk temannya.”
“Oh yah, ini teman sekolah aku Ma,” kata Dita malu-malu.
“Teman apa teman, yah sudah Mama tinggal dulu.” Aku dan Riko bertatap muka sambil tersenyum.
Pukul 04.30 WIB Riko pun pulang dari rumahku, ia lega ternyata aku tidak jadi pindah dikarenakan Papa dapat proyek baru lagi di Jakarta. Sampai di rumah Riko berencana untuk menembakku di sekolah besok pagi.
Aku
pagi ini sudah tak lagi jalan kaki dari tempat biasanya ia diantarkan sopir,
sekarang aku membawa mobil sendiri. Dengan mengenderai mobil BMW B 121 aku
melaju di parkiran dengan santainya. Tiba di sekolah betapa terkejutnya aku
melihat di depan gedung sekolah bertuliskan.
“AKU SENANG KAMU TIDAK JADI PINDAH, JANGAN TINGGALIN AKU LAGI YAH. I LOVE YOU DITA KU SAYANG, MAU TIDAK JADI PACARKU.”
“AKU SENANG KAMU TIDAK JADI PINDAH, JANGAN TINGGALIN AKU LAGI YAH. I LOVE YOU DITA KU SAYANG, MAU TIDAK JADI PACARKU.”
Balon-balon
pun berterbangan seakan benar-benar menyambut kedatanganku pagi ini.
“So sweet banget yah Riko, Dita emang is the best.” Kata Maya temanku. Aku tersenyum heran siapa yang berani ungkapkan perasaannya pagi-pagi ini.
“Riko, ya pasti aku yakin sekali pasti dia,” pikirku dalam hati.
“So sweet banget yah Riko, Dita emang is the best.” Kata Maya temanku. Aku tersenyum heran siapa yang berani ungkapkan perasaannya pagi-pagi ini.
“Riko, ya pasti aku yakin sekali pasti dia,” pikirku dalam hati.
Putri yang melihat kejadian itu iri dan
merasa ini tak adil untuknya. Kenapa setiap yang lagi dekat dengannya selalu
berpindah ke padaku. Putri mencari Riko dan meminta penjelasan atas apa yang
dilakukan Riko terhadapnya. Sampai di kantin ia menemukan Riko dan genknya yang
lagi tertawa riang.
“Riko…
Apa yang kamu lakukan, kampungan sekali. Kamu itu kan pacar aku, harusnya kamu
sayangnya sama aku. Bukannya Dita, yang paling aku benci. Aku tidak terima,”
geram Putri.
“Hey Put, siapa juga mau jadi pacar kamu, sudah galak, norak lagi. Mulai detik ini kita putus, aku udah bosan sama kamu,” tantang Riko.
“Dasar yah cowok kurang ajar, sampai kapanpun aku tidak terima kamu jadian sama cewek perebut cowok orang itu,” sambil berlalu pergi. Putri tidak menerima kejadian ini, ia langsung mencari Rey. Ia bersekongkol agar aku dan Riko tidak pacaran. Rey yang mendengar kabar itu, langsung mendekati Riko yang nampak sendiri.
“Hey Put, siapa juga mau jadi pacar kamu, sudah galak, norak lagi. Mulai detik ini kita putus, aku udah bosan sama kamu,” tantang Riko.
“Dasar yah cowok kurang ajar, sampai kapanpun aku tidak terima kamu jadian sama cewek perebut cowok orang itu,” sambil berlalu pergi. Putri tidak menerima kejadian ini, ia langsung mencari Rey. Ia bersekongkol agar aku dan Riko tidak pacaran. Rey yang mendengar kabar itu, langsung mendekati Riko yang nampak sendiri.
“Rik,
lo tahu akibatnya kalau kamu masih deketin Dita. aku tidak segan-segan memberi
perhitungan sama kamu,” ancam Rey.
“Kenapa, apa ada yang salah? Kamu bukan siapa-siapa Dita, ngapain aku harus berurusan sama kamu,” jawab Riko santai.
Tak sempat Rey bicara, tiba-tiba aku menghampiri mereka, aku yang mendengar percakapan mereka langsung marah sama Rey yang ku pikir dia baik sama aku.
“Kenapa, apa ada yang salah? Kamu bukan siapa-siapa Dita, ngapain aku harus berurusan sama kamu,” jawab Riko santai.
Tak sempat Rey bicara, tiba-tiba aku menghampiri mereka, aku yang mendengar percakapan mereka langsung marah sama Rey yang ku pikir dia baik sama aku.
“Mas
Rey, apa aku tidak salah dengar. Apa ini yang mas Rey yang ku kenal dulu. Orang
yang baik, dan tak suka pertengkaran. Aku kecewa sama mas,” sambil menangis.
“Dita, ini demi kamu. Aku sayang sama kamu, dan aku tidak mau kamu terkena rayuan gombal dia,” sambil menunjuk Riko.
“Aku sangat berterima kasih sama mas, tapi maafkan aku mas, selama ini mas Rey sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri. Aku harap mas Rey terima keputusan ini,” tegas Dita.
“Dita kamu juga suka sama aku?” tanya Riko penasaran.
“Baiklah kalau itu buat kamu bahagia, tapi ingat Rik jangan sampai kamu buat Dita menangis. Kamu harus berhadapan denganku, ngerti!!”
“Tenang saja Rey, aku tidak bakalan bikin Dita disakitin sama siapa aja, dan aku akan lindungi dia terus. Yah, kan sayang?” jawab Riko sambil pegan tanganku.
“Makasih yah, Rik. Aku percaya sama kamu.” Aku dan Riko pun resmi menjalin hubungan pada hari itu.
“Dita, ini demi kamu. Aku sayang sama kamu, dan aku tidak mau kamu terkena rayuan gombal dia,” sambil menunjuk Riko.
“Aku sangat berterima kasih sama mas, tapi maafkan aku mas, selama ini mas Rey sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri. Aku harap mas Rey terima keputusan ini,” tegas Dita.
“Dita kamu juga suka sama aku?” tanya Riko penasaran.
“Baiklah kalau itu buat kamu bahagia, tapi ingat Rik jangan sampai kamu buat Dita menangis. Kamu harus berhadapan denganku, ngerti!!”
“Tenang saja Rey, aku tidak bakalan bikin Dita disakitin sama siapa aja, dan aku akan lindungi dia terus. Yah, kan sayang?” jawab Riko sambil pegan tanganku.
“Makasih yah, Rik. Aku percaya sama kamu.” Aku dan Riko pun resmi menjalin hubungan pada hari itu.
Ternyata aku dan Riko mempunyai cinta yang
sama. Walaupun dulu saling membenci, sekarang cinta itu tumbuh dengan
sendirinya walau tanpa paksaan cinta pun datang dengan tiba-tiba.